Ekonomi Etis

EKONOMI ETIS? 

Dewasa ini berkembang “paradigma baru” dalam memandang ilmu pengetahuan dan sains, baik yang masuk dalam wilayah ilmu-ilmu eksakta maupun ilmu-ilmu sosial dan humaniora. “Paradigma baru” yang dimaksud adalah timbulnya kesadaran akan adanya pertautan yang erat antara ilmu pengetahuan dan sains dengan etika. 

Rolston misalnya, menulis buku yang diberi titel Science and Religion. Buku yang lumayan tebal tersebut menguraikan dengan “apik” tentang hubungan yang terjalin antara sains dan etik agama-agama. Dalam penelitiannya, Rolston mencoba untuk menelusuri struktur etika yang diusung oleh berbagai agama di barat dan Timur yang pada akhirnya dia menyimpulkan bahwa sistem etika setiap agama memiliki daya pengikat terhadap penganutnya untuk diaktualisasikan dalam setiap gerak-langkah, tutur kata bahkan ide-idenya. Pada gilirannya, Rolston mencoba mengaitkan antara etika agama dengan sains, dimana sains diposisikan sebagai salah satu aspek kehidupan manusia. Singkatnya antara sains dan etika agama sangat erat.

Di bidang agama, jauh hari sebelum Rolston mengemukakan gagasannya di atas, Weber secara khusus telah menelurkan gagasan Brilian yang menghubungkan antara Etika Protestan dengan semangat Kapitalisme.  Kesimpulan Weber ini berngkat dari pengamatanntya terhadap salah satu sekte agama Protestan (Calvinisme) yang ternyata  memberikan spirit luar biasa kepada para pemeluknya untuk hidup secara produktif demi meraih kebahagiaan sejati.

Meskipun banyak kritik yang terlontar terhadap tesis Weber ini, namun pada akhirnya masyarakat menyadari bahwa memang antara etika dengan ekonomi (baik sebagai ilmu, aliran, maupun praktik/ aktivitas) sangat terkait dengan etika. Sangat mudah memberikan penjelasan ini. Seseorang yang melakukan transaksi jual beli misalnya, sekalipun tujuann utamanya adalah mendapatkan profit, namun dia juga terikat oleh seperangkat norma (baik tertulis maupun tidak, sadar- atau tidak) yang harus dia pegangi selama melaksanakan transaksi dengan mitranya. Dia harus mempertimbangkan aspek kejujuran, tidak merugikan pihak lain dan sebagainya.

Dalam Islam, hubungan etika dengan ekonomi sangatlah jelas. Fiqh Mu’amalah adalah salah satu rumusan etika ekonomi yang sengaja disusun oleh sarjana klasik sebagai norma tertulis yang mengatur jalannya transaksi, mana yang boleh dan mana yang dilarang.

Sayangnya, dalam perkembangan selanjutnya  ekonomi ISlam berubah menjadi sangat mekanis dan tertutup, dimana setiap bentuk transaksi yang sama sekali berbeda dengan formulasi yang telah ditetapkan oleh para sarjana klasik tersebut, harus ditolak  dan dihakimi “haram”.

Jika kondisi dan ideologi demikian tetap dipertahankan, tidak heran jika perkembangan ekonomi Islam sangat lambat dan seakan jalan di tempat dikarenakan sifatnya yang eksklusif dan kaku tersebut.

Karena itu, langkah bijak yang mesti ditempuh untuk mengupdate norma ekonomi ISlam adalah dengan menarik sisi terdalam dalam ekonomi ISlam, yaitu etikanya.

Muara gagasan ini berakhir pada hilangnya beban-beban atribut “keislaman” tetapi justru mengekang perkembangan ekonomi ISlam dan lebih mengedepankan sisi substansial di dalamnya. Para sarjana, ilmuan, pengamat dan praktisi ekonomi Islam hendaknya tidak perlu ngotot lagi dengan sebutan “ISlam” pada ekonomi mereka. Akan lebih “mulia” jika kita berani mengatakan ekonomi kita adalah “ekonomi etis”. Sebab istilah tersebut jauh lebih dalam ketimbang sebutan ekonomi Islam.

Wassalam, jogja 03 April 2008 

bersambung……

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s