FUNGSI SOSIAL BANK SYARI’AH

FUNGSI SOSIAL BANK SYARI’AH

oleh : Ahmad Dimyati

 

Selama ini, definisi bank syari’ah atau bank Islam adalah bank yang dilandaskan pada nilai-nilai Islam (al-Qur’an, as-sunnah dll). Secara operatif bank syari’ah dijabarkan sebagai bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Dengan kata lain, bank syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dengan prinsip syariat  Islam. 

Definisi di atas menyiratkan bahwa pengertian bank syariah ternyata berbeda dengan pengertian bank dalam arti konvensional, dimana bank dalam pengertian yang terakhir ini dibatasi sebagai lembaga perantara keuangan atau biasa disebut financial intermediary. Artinya, lembaga bank adalah lembaga yang dalam aktivitasnya berkaitan dengan masalah uang. Oleh karena itu, usaha bank akan selalu dikaitkan dengan masalah uang yang merupakan media transaksi-transaksi ekonomi. Karena itu, kegiatan dan usaha bank konvensional selalu terkait dengan hal-hal yang persoalan ekonomi, yaitu; memindahkan uang, menerima dan membayarkan kembali uang, mendiskonto surat wesel, surat order maupun surat berharga lainnya, membeli dan menjual surat-surat berharga, memberi jaminan bank.

Pengertian bank syari’ah yang menjadikan sumber-sumber otoritas etika agama Islam (baca; al-Qur’an dan as-Sunnah) sebagai rujukan filosofis dan operasionalnya, membawa konsekuensi bahwa bank syari’ah memiliki tanggungjawab etis untuk mampu menerjemahkan statemen-statemen moral di dalamnya secara operasional. Hal itulah yang terlihat dari produk-produk bank syari’ah selama ini mengacu pada berbagai bentuk transasksi fiqh yang diyakini diformulasikan berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan praktek Rasulullah SAW. Baik produk yang menggunakan label fiqh seperti mudharabah. murabahah, musyarakah, rahn, salam dan sebagainya, maupun yang sudah dikemas dalam bentuk transaksi kontemporer seperti profit sharing, profit and loss sharing (PLS) dan sebagainya, diupayakan agar selaras dengan aturan-aturan baku dalam fiqh.

Tanggungjawab etis bank syari’ah juga dapat dilihat dari aspek manajemen yang meneyertakan keterlibatan Dewan Pengawas Syari’ah (DPS) maupun Dewan Syari’ah Nasional (DSN) sebagai pihak yang ditugasi sekaligus memegang otoritas dalam menentukan legalitas produk yang akan dikeluarkan dari aspek syari’ah.

Meskipun demikian, batasan-batasan ideal di atas ternyata belum sepenuhnya diimplementasikan dalam operasional bank syari’ah itu sendiri. Sejauh ini “gugatan”  terhadap bank syari’ah sering kali terdengar, baik yang ditujukan terhadap legalitas akad-akadnya yang dinilai tidak memiliki perbedaan substansial dengan produk bank konvensional, maupun fungsi sosial yang sebenarnya merupakan salah satu bentuk tanggungjawab etisnya. Persoalan terakhir inilah yang pada akhirnya mengantarkan pada sebuah pertanyaan besar; bagaimanakah fungsi sosial bank syari’ah dapat dijalankan?  

Artikel ini akan mengajukan sebuah gugatan sekaligus tawaran kepada bank syari’ah agar dapat menjalankan fungsi sosialnya dengan baik.     

       

    Bank Syari’ah dan Fungsi Sosial

Apa hubungan bank syari’ah dengan fungsi sosial?  Pertanyaan demikian sangat mungkin mengemuka jika bank syari’ah dipandang sebagai sebuah lembaga bisnis yang hanya berorientasi pada profit semata. Akan tetapi sebagaimana telah disebutkan di atas, bank syari’ah di samping memiliki kepentingan bisnis, juga mengusung sebuah tanggung jawab etis yang harus di jalankan, terutama yang terkait dengan fungsi sosialnya.

Mengutip pernyataan Syafi’i Antonio, dalam landasan falsafahnya dinyatakan bahwa perbankan syari’ah ditujukan untuk mencari keridhaan Allah SWT, untuk memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, setiap kegiatan lembaga keuangan yang dikhawatirkan menyimpang dari tuntunan agama harus dihindari, yaitu dengan cara menjauhkan diri dari unsur riba dan menerapkan sistem bagi hasil dan perdagangan. Dengan mengacu pada al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 275 dan an- Nisa ayat 29, maka setiap transaksi kelembagaan syariah harus dilandasi atas dasar sistem bagi hasil dan perdagangan atau transaksinya didasari oleh adanya pertukaran antara uang dengan barang. Akibatnya pada kegiatan mu’amalat berlaku prinsip ada barang/jasa uang dengan barang, sehingga akan mendorong produksi barang/jasa, mendorong kelancaran arus barang/jasa, dapat dihindari adanya penyalahgunaan kredit, spekulasi, dan inflasi. Prinsip utama bank syari’ah adalah harus menuju pada pengembangan kesejahteraan masyarakat yang bermuara kepada kondisi sosial masyarakat yang menentramkan. Itulah sebabnya mengapa salah satu misi bank syariah adalah mengutamakan dana dari golongan menengah dan ritel, memperbesar portofolio pembiayaan untuk skala menengah dan kecil, serta mendorong terwujudnya manajemen zakat, infak, dan sedekah yang lebih efektif sebagai cerminan kepada kepedulian sosial.

Aspek pelayanan dalam perbankan syari’ah merupakan gabungan antara aspek moral dan aspek bisnis. Dalam operasionalnya selalu bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dan terbebaskan dari unsur perjudian, garar (ketidakjelasan/manipulasi), dan riba. Oleh karena itu, bank  syariah tidak bebas bertransaksi semaunya, melainkan harus mengintegrasi nilai-nilai moral dengan tindakan-tindakan ekonomi berdasarkan syariah. Uang dan kekayaan hanya sebatas menjadi alat terpadu untuk mencapai kebaikan dalam masyarakat. Sedangkan landasan utama perbankan syariah adalah keyakinan, kebebasan, kejujuran, dan kegigihan untuk meraih sukses, ditunjang faktor-faktor sumber dana, sumber daya manusia, mitra usaha, dan perkembangan teknologi.

Baik landasan falsafah maupun aspek layanan bank syari’ah di atas menjadi nilai lebih yang tidak dimiliki oleh bank konevensional. Namun, pada saat yang bersamaan dikhawatirkan hal tersebut juga menjadi kelemahan yang mencolok manakala tidak diimplementasikan dengan sepenuhnya. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan jika melihat pada realitas bank syari’ah saat ini. Realitas yang dimaksud adalah kondisi-kondisi riil dimana bank syari’ah; (1) telah mereduksi makna fungsi sosial menjadi peyaluran dana sosial (Zakat, Infak Sadaqah/ ZIS); (2) lebih mementingkan kepentingan jangka pendek dalam bentuk keuntungan materi, tidak ubahnya bank konvensional; (3) lemah dalam aspek sumber daya manusia, dimana SDM yang tersedia kurang atau bahkan tidak mengenal hukum Islam, serta;  (4) minimnya upaya sosialisasi atau pendidikan terhadap masyarakat. Hal ini membawa akibat serius terhadap keberlangsungan masa depan bank syari’ah itu sendiri. Faktanya hingga saat ini masyarakat masih awam tentang perbankan syari’ah, bahkan masyarakat muslim sendiri. Selain itu, selama ini masyarakat yang menjadikan bank syari’ah sebagai pilihan pada dasarnya hanya didorong oleh ikatan emosional sebagai tuntutan moral seorang muslim dan bukan merupakan pilihan rasional.

 

Agenda Aksi

Kondisi seperti digambarkan di atas, sekali lagi diakibatkan oleh pengabaian fungsi sosial oleh bank syari’ah itu sendiri. Jika dibiarkan berlanjut, bukan tidak mungkin pada saatnya nanti bank syari’ah akan ditinggalkan oleh nasabahnya.

Apa yang mesti dilakukan?  Inilah perntanyaan yang paling penting untuk dijawab. Jika melihat pada beberapa realitas yang dihadapi bank syari’ah di atas, maka setidaknya terdapat sejumlah agenda fungsi sosial yang mesti dilakukan oleh perbankan syari’ah, yaitu;

Pertama, merubah paradigma bisnis, dimana tujuan bisnis perbankan syar’ah tidak semata-mata untuk mengejar profil semata, tetapi juga tetap memperhatikan legalitas (dalam perspektif Islam) terhadap produk-produknya. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah merubah citra eklusif  bahwa perbankan syari’ah hanyalah diperuntukkan bagi konsumen muslim. Karena itu, term-term yang kearaban hendaknya diterjemahkan ke dalam istilah yang lebih familier dalam dunia bisnis, tanpa menghilangkan substansinya.

Kedua, melakukan Social education dalam bentuk penyadaran kepada masyarakat bahwa kelebihan perbankan syari’ah tidak hanya diwujudkan dalam minimnya resiko loose yang ditanggung (karena tidak terikat langsung dengan fluktuasi tingkat suku bunga), tetapi juga diwujudkan dalam bentuk pencapaian keuntungan sosial (karena dilandaskan pada standar-standar moral semisal kepercayaan, keadilan, kejujuran dan sebagainya).

Ketiga, mempersiapkan SDM yang menguasai hukum Islam. Sebab, bagaimanapun konsep-konsep produk yang ditawarkan perbankan syari’ah merupakan turunan dari bentuk-bentuk tansaksi dalam hukum Islam. Di samping itu, yang lebih penting adalah dengan dipersiapkannya SDM yang menguasai hukum Islam juga untuk kepentingan menggerser paradigma konvensional.

Keempat, menjalin kerja sama dengan dunia pendidikan, mengingat sampai dengan saat ini perbankan syari’ah masih membutuhkan formulasi baku, terutama bentuk-bentuk produknya. Dan hal tersebut salah satunya menjadi tanggungjawab dunia pendidikan yang bertugas merumuskannya.

Dengan keempat agenda aksi tersebut, paling tidak sasaran yang dapat dicapai adalah merubah wajah perbankan syari’ah dari sekedar perbankan konvensional yang berbaju syari’ah menjadi benar-benar syar’i.

 

5 pemikiran pada “FUNGSI SOSIAL BANK SYARI’AH

  1. apa saja prodak bank syari’ah yang dipasarkan pada masyarakat…. dan bagaimana caranya mengajukan ..pembiayaan di bank syaria’ah mandiri mohon penjelasannya..

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s