Renungan

CELOTEH AYAT CINTA IZZA

(Sepenggal Pengalaman Nyata dari sebuah Perjalanan Spiritual)

 

Saat ini hatiku tengah terlena oleh sinaran bening tunas-tunas cinta yang berpijar di setiap pagi, seiring nyaring suara tasbih dari relung kalbu setiap makhluk di bumi menyeru asma Allah. Cinta itu itu adalah rasa mahabbah-ku kepada sang khaliq. Semua itu aku syukuri sebagai nikmat terbesar yang pernah aku terima dalam meniti liku kehidupan. Setiap hembusan nafasku dan detak jantungku serasa indah, berbalut mahabbah tertinggi.

Sekarang baru aku sadari arti seuntai bait yang pernah aku kaji dalam lembaran-lembaran pucat goresan tinta sufi, sepuluh tahun yang lalu, tapi terpatri kuat dalam ingatanku: “kekasih sejati, jika benar-benar mencintai kekaihnya-akan selalu berusaha meraihnya dan menyerahkan apa yang tidak mungkin diserahkan pada orang lain”. Sebuah ungkapan cinta penuh makna dari seorang hamba yang rindu pada Tuhannya.

Tapi, setelah sekian lama aku merenugi bait itu, baru sekarang aku memahami dan menyadari makna yang sesungguhnya. Selama ini, bait indah itu aku anggap sebagai sederet kata tanpa makna, bahkan dengan semena-mena aku renggut kesucian maknanya untuk menyahuti gejolak cinta semu, cinta kepada manusia.

Sejujurnya selama ini nuraniku sering berontak, ketika aku saksikan betapa aku telah membohongi diriku sendiri. Sebagai hamba Allah yang mengemban amanah sebagai da’i, acap kali aku lantunkan seruan kepada ummat untuk senantiasa berpacu dengan ajal untuk meraih cinta sejati, mahabbah kepada sang Rahman Rahim. Namun, setiap kali pula kesombonganku menghalangi bisikan kalbu untuk sejenak bersujud mengakui kebesaranNya dan meraih asihNya. Sering aku lantunkan ayat-ayat al-kitab yang menyeru orang-orang beriman untuk tunduk pada keagunganNya, tapi ketika itu pula keangkuhan memaksaku berjalan dengan congkak menantang takdir sang Jabbar.

Meski nurani berontak, namun tetap tidak mampu mengalahkan kesombongan dan keangkuhanku. Sampai… ketika mahkota kecilku, Izza Queen Sophia mulai berceloteh, mengusik kesenyapan malam dan membuyarkan pejamnya mata sang bunda yang baru sedetik lalu merebahkan badan, aku mulai tersadar. Aku terjaga dari muslihat iblis laknatullah yang melenakan. Muslihat yang menghalangi Fir’aun untuk mengakui kebesaran Tuhannya, yang memenjara kesadaran Abu Lahab untuk mengikuti risalah al-Musthafa Saw.

Ketika di sore itu, Izza kecilku berceloteh: “Ayah….. ayo ke masjid ikut shalat”. Dengan mudahnya aku menjawab: “Maaf anakku…., ayah masih capek. Besok saja ya ke masjidnya”. Tanpa aku duga Izza kecilku berkata lirih sambil bermasam muka: “Katanya kalau tidak ke masjid nanti di marahi Allah”.

Subhanallah…..! Sejenak otakku yang selama ini aku banggakan membeku, bibirku terkatup tak mampu mengucap sepotong kata untuk menguraikan satu alasan pembelaan pada Izza kecilku. Anganku surut ke belakang; bukankah sejam lalu dengan berapi-api aku menyampaikan ayat Tuhanku, menyeru ummat untuk menjaga shalat lima waktu? Bukankah sejam yang lalu sekelompok awam menitikkan air mata ketakutan dan penyesalan, ketika aku sampaikan peringatan akan azab Allah bagi mereka yang melalaikan shalatnya? Tapi mengapa seruan itu tidak pernah menggugah kejujuranku untuk meletakkan kesombongan dan bersedu-sedan mengakui betapa lemahnya hamba ini?

Sejurus kemudian, aku duduk berlutut dan merengkuh Izza kecilku seraya aku kecup pipi ranumnya sambil menahan titik air mata mengalir. Dalam hatiku aku berseru: “subhanallah…wal hamdulillah, Maha Besar Engkau ya Allah, terima kasih telah Engkau lantunkan ayat cintaMu dari bibi mungil Izza kecilku”. Aku tatap lembut sepasang mata bening Izza kecilku, lalu dengan suara tersendat aku berujar: “Tunggu sebentar sayang…ayah ambil sajadah dulu”. Aku melangkah ke kamar, membuka tumpukan lipatan bajuku di lemari yang tersusun dengan rapi dan wangi. Tersembul warna hijau cerah sajadahku pada tumpukan paling bawah. Masih terlihat baru, tapi mulai tampak berkerut karena tidak pernah aku jamah. Lalu dengan erat aku gandeng jemari Izza kecilku dan bundanya, melangkah bersama menuju “rumah Allah” yang hanya 100 meter di sebelah timur rumahku, memenuhi panggilan untuk sejenak mengabdkan diri kepada Rabb yang telah menciptakan semesta alam.

Alhamdulillah, kini dinginnya malam tidak lagi menghalangi khusyu’ sujudku. Penatnya raga tidak lagi menggelayuti langkahku untuk menuju “rumahNya”. Kini aku pahami arti mahabbah sejati itu, yang dulu aku pelajari dari goresan tinta suci sang Sufi. Aku selalu panjatkan do’a padaNya; semoga diberi kekuatan untuk tetap istiqamah memegang mahabbahNya. Juga aku lantunkan syukurku pada Tuhan, yang telah hadirkan Izza kecilku.       

   

Jogja Utara, 28 Juli 2008

Dinihari menjelang Subuh

 

 

Kang Dim


 

 

Satu pemikiran pada “Renungan

  1. Indah… nan menyentuh … menyadarkan diri dari kecongkakan akal … dan logika …
    Semoga menyadarkan hamba-hamba Allah lainnya

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s