Cerpen Negeri Dongeng (Terjemahan dari Teks Arab)

ORANG TUA DI DISKOTIK

I

 

Terbit tahun 1946

 

Kemarin sore aku shalat di masjid al-‘Abbas. Selesai shalat aku menoleh untuk mengucapkan salam, sekejap aku melihat seseorang. Mataku seakan tidak percaya, aku menoleh lagi untuk meyakinkan. Ternyata dia seseorang yang sedang berlumuran darah. Dia shalat dengan khusyu’ kepada Allah, penuh konsentrasi dan sungguh-sungguh bertaubat. (Padahal) terakhir kali aku melihatnya masih berjalan di atas jalan kesesatan, dan melangkah laksana kuda yang kepanasan. Dia terjerembab dalam kesesatan dan kehinaan, terlena dan akhirnya masuk dalam jurang yang dalam. Dia terlena dalam gemerlapnya diskotik. Seakan-akan keterlenaannya seperti tertulis dalam kisah di mana ia melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang sedang jatuh cinta; hilang akalnya dan agamanya. Ia hambakan hati dan hartanya. Darinya juga aku mengetahui kesesatan dan kekejian ini. Darah dan hatinya telah mendidih, ia tidak lagi mempedulikan harga diri dan tidak dapat menikmati cintanya….meskipun ia memiliki hati kecil yang memanggil-manggilnya, tetapi ia selalu mengingkari hati kecilnya. Ia juga memiliki sahabat yang memberikan nasihat, tetapi ia telah menutup telinganya dari masukan rekan-rekannya. Dan ketika mereka telah pupus harapan untuk memperbaikinya, merekapun meninggalkannya tetap terlena di lantai dansa dan bujukan iblis, lalu terseret penyakit, kefakiran dan jahannam!.

…..Ketika aku melihatnya di dalam masjid, akupun terheran-heran. Karena itu aku menunggunya sampai selesai. Setelah itu aku menemuinya dan bertanya. Dia menjawab: “Ceritaku sangatlah mencengangkan. Tetapi aku tidak suka membicarakannya di rumah Allah. Ikutlah denganku ke rumah, lalu dengarkan ceritaku….”

 

***

Dalam ceritanya ia berkata:

Sungguh merupakan sebuah anugerah bagiku apa yang engkau lihat tentang taubatku pada Allah, demikian juga kepada Syaikh Shalahuddin. Allah benar-benar telah memberi petunjuk padaku melalui beliau dan juga pada orang-orang lain ketika mereka dalam kesesatan. Aku mengenal orang-orang pemberani memiliki tekad untuk maju. Aku juga telah mendengar kisah-kisah ‘ulama yang menghadap kepada para penguasa dengan membawa apa yang mereka benci. Juga cerita orang-orang yang menentang dan berpaling dari kebenaran. Tetapi tidak, demi Allah aku tidak pernah mendengar dan mengetahui ornag yang lebih kejam dari orang ini dan lebih jahat…”

Aku bertanya: “Lalu apa yang ia lakukan?”

Ia menjawab: “Beliau memberi nasihat di diskotik! Tidakkah engkau dengar cerita? Padahal kisahnya telah tersebar dan ditulisa dalam lembaran-lembaran buku. Cerita itu telah berkembang sejak lama…yaitu ketika ia melihat orang-orang yang sedang menuntut ilmu semakin berkurang. Dan dia melihat orang-orang kian berpaling dari masjid, tidak ada yang mendatangi masjid kecuali orang-orang lemah dan renta. Dan mereka tidak membutuhkan nasihat, sebaiknya yang perlu dinasihati adalah anak-anak muda. Diapun bertanya: lalu di mana para pemuda itu? Diapun ingin segera mendapatkan jaabannya. Orang-orang menjawab: “Saat ini anak-anak muda banyak di gedung-gedung sinematorium, diskotik dan meja-meja judi…” Diabertanya lagi: “Apa itu sinematorium dan diskotik?” Dia tidak tahu apa semua itu. Dia juga tidak tahu dunia ini keculai masjid dan rumahnya. Dia hanya mendengar cerita tentang ilmu.” Penulis berkata: penysrah buku ini mnyebutkan syaikh itu akhirnya kebingungan…

Orang-orang menjawab: “Diskotik itu tempat meriah dan luas yang dipenuhi pengunjung. Di dalamnya terdapat panggung yang tinggi dai selimuti tabir tipis yang menjuntai. Di atasnya berdiri gadis-gadis telanjang yang hanya mengenakan secuil kain dan hampir tidak dapat menutupi tubuhnya sama sekali. Mereka menari-nari, bermain dan menggerakkan tangan dan kakinya…”

Syaikh itu berkata: “cukup, cukup! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un!. Jadi mereka gadis-gadis yang menari-nari di depan laki-laki lain?! Aku tidak pernah mengira yang seperti ini ada di negara Islam. Antarkan aku ke diskotik!”

Orang-oramng bertanya: “Ke diskotik tuan?”

Dia menjawab: “ya, aku takut ini menyerupai laknat Dawud dan Isa putra Maryam. Aku akan merubah kemungkaran ini dengan lidahku. Karena aku tidak percaya dengan pakar hukum yang mau merubah tipisnya agama mereka dengan kekuasaan mereka.”

Orang-orang berkata: “Tuan…..mereka sudah menghina dan menyakiti kami. Mereka tidak mau mendengarkan nasihat kami.”

Dia berkata: “Kita memangh tidak lebih utama dibandingkan para nabi. Jiwa kita juga tidak lebih mulia dari mereka. Tetapi jangan takut pada mereka untuk berjuang di jalan Allah, janganlah kalian lemah dan gentar. Kita hanyalah penyampai kabar, dan Allahlah yang akan memberi petunjuk”.

Orang-orang berkata: “Banyak sekolah yang telah membuat bid’ah dalam hal ini dengan bid’ah yang sama sekali baru dan menuruti iblis. Yaitu mengijinkan anak-anak gadis untuk berjalan telanjang dan menari-nari di depan kaum pria. Hendaknya kita memulai dari sekolah-sekolah sebelum memasuki diskotik. Sebab mereka akan meruntuhkan ahlak atas nama olah raga, kesehatran dan seni!”

Syaikh berkata: “Tidak, kita insyaallah tetap memulai dari diskotik”.

Ketika orang-orang melihat keyakinan dan kesungguhan syaikh, merkea berkata: “Tuan, biarkan kami dulu sampai berani kembali bersama anda ke tempat di mana anda akan memberikan nasihat pada orang-orang itu!”.

Berangkatlah mereka menuju diskotik Abu Nawas. Lalu mereka meminta pada pemiliknya kesempatan seperempat jam di saat jeda antara dua sesi, agar syaikh memberikan nasihat kepada pengunjung. Seorang lelaki memandangi mereka penuh selidik, barang kali di bawah lipatan baju mereka terdapat baju-baju curian yang akan dibawa lari dari diskotik. Setelah itu dia menjauh karena khawatir kalau mereka menyerangnya dan memukulnya dengan besi yang disembunyikan di balik baju. Dia memanggil rekan-rekannya untuk mengusir orang-orang yang akan masuk bersama syaiknya dan akan memberi nasihat kepada pengunjung tentang hukum perjudian… Tetapi pengunjung menarik mereka dari tempatnya dan mengusir mereka ketika tahu permintaan seperempat jam dari setengah malam yang mereka habiskan…sebelum akhirnya menyeret ke pintu. Tetapi pengunjung tidak lupa untuk menutup lorong sebelum mengunci pintu.

Ada seorang yang merasa senang dengan pengumuman baru di diskotik dan berharap agar kalah bersaing dengan diskotik Muthi’ ibn ‘Iyas yang berdiri di sebelahnya. Dia menunggu kedatangan syaikh itu sambil menahan tawa. Dia segera mencetak pengumuman tentang berita yang menghebohkan itu. Orang-orang berdatangan untuk melihat berita heboh tersebut dan mengira-ngira apa yang akan terjadi. Padahal diskotik itu baru saja berdiri. Apa lagi yang ada di diskotik selain disko?!”

Malam itu aku di sana. Aku sedang melantai dengan seornag gadis baru yang sangat cantik dan belum pernah aku temui sebelumnya. Aku membaur dengan pengunjung yang tidak menyadai dosa apa yang mereka perbuat, sampai-sampai tanganku berdarah karena banyak bertepuk dan bersalaman. Telinga dipekakkan oleh riuh dan teriakan. Perlahan tabir diturunkan dari panggung dansa dan inilah yang paling disukai pengunjung lebih dari istri dan anaknya. Saat itu semua pengunjung merelakan hartanya, mengabaikan harga diri dan agamanya. Mereka menanggil-manggil nama gadis itu untuk memanjakan mata mereka dengan melihat lebih banyak tubuhnya. Ketika lampu mulai redup mereka menatapnya serta memanggil-manggil namanya tanpa henti. Mereka menghentak-hentak lantai seperti anak kecil berebut mainan. Mereka berpikir seperti anak-anak. Tabirpun tersingkap dan mereka dapat melihat………

Mereka menyaksikan di panggung tempat sesosok tubuh yang menarik dan menggairahan dalam keadaan telanjang dan membuat terlena itu, terdapat orang tua duduk mengenakan surban sedang memegang jenggotnya dan mengelus jubahnya. Orang itu benar-benar syaikh dan bukan sebuah patung yang diberi baju syaikh!

Sejurus kemudian syaikh itu memulai ceramahnya dengan membaca tahmid, shalawat dan salam kepada Rasulullah. Sejenak lidah para pengunjung tertahan. Mereka terdiam, tetapi kemudian berteriak terkejut. Kamudian berlarian…

***

 

Sesungguhnya, setiap perubahan sifat kekejian terlihat dalam bentuk kerusakan bagi pendengarnya. Dan engkau tahu semua pengunjung di situ adalah orang-orang yang keji, pemarah dan pendosa. Di antara mereka ada pemabuk dan pemaksa. Tetapi orang tua ini datang pada mereka di saat gairah mereka memuncak, kemudian merusak suasana mabuk mereka untuk membacakan hadis-hadis taqwa dan kebaikan dari atas panggung dansa, seraya berkata bahwa gadis itu adalah sumber dosa, pejamkanlah pandangan kalian darinya karena dia adalah aurat. Lalu berpalinglah kalian dari tempat celaka dan dosa ini. Dia menampakkan diri di depan mereka ketika hasrat mereka sedang bergolak melihat gadis telajang yang meliuk-liuk…bayangkan apa yang terjadi pada mereka!

Merekapun mencerca dan menghina, melemparkan kata-kata kotor dan memintanya untuk melepaskan pakaian dan menari telanjang bersama. Merekapu memberikan gelas minuman keras padanya, tetapi ia tetap meneruskan perkataannya seakan-akan mereka adalah lalat yang berkerumun di sekelilingnya. Bahkan lelaki ini tidak memperdulikan lalat-lalat itu. Orang-orang yang mabuk menjadi jengkel. Di antara para pemabuk itu ada seseroang yang mengenal orang tua itu. Dia segera berteriak agar mereka diam dan mendengarkan ucapan orang tua itu. Yang lainpun segera terdiam. Inilah yang diharapkan orang tua itu, sehingga ia dapat menggugah pendengaran dan menusuk hati mereka. Merekapun mendengarkan dan terpaku. Kemudian mereka sepenuhnya memperhatikan orang tua itu. Hasrat mereka pada gadis penari itu adalah hasrat nafsu, sedangkan cinta mereka pada orang tua itu suci…dan ketika selesai berbicara. Orang tua itu berdiri untuk keluar. Para pengunjung turut berdiri  dan keluar membututinya. Mereka meninggalkan diskotik syetan dan pemiliknya seorang diri…aku sejak saat itu mengikutinya seperti halnya sebagian besar orang yang hadir ketika itu…”

Aku bertanya: “Tidakkah engkau ingat sesuatu dari kata-katanya?”

Dia menjawab: “Ya, dia berkata dengan lantang. Kami rasakan itu menusuk dalam hati sehingga kami menghormati dan selalu mengingatnya. Dia terus mengucapkan dengan lantang smpai akhirnya aku bebas dari kotoran yang telah menenggelamkan aku menuju jalan terang dan kesucian. Dia berbicara tidak seperti aku dan engkau berbicara. Dia berbicara tidak seperti biasanya, meskipun aku pernah mendengar sebelumnya. Tetapi kali ini beda. Menurutku malaikat telah berbicara melalui lidahnya sehingga dari lidah itu keluar kata-kata cahaya langit”.

Aku bertanya: “Seperti apa?”     

Dia berkata: “Aku ini laki-laki bodoh, jika aku mengulangi ucapan itu padamu, aku tidak dapat mengucapkannya dari hatiku yang kotor dan hina. Seperti lentera yang bersinar jika terjatuh ke bumi dan di atasnya hanya ada batu beku…Apakah engkau ingin aku mengulangi apa yang aku ingat dari syaikh itu dari dalam hatiku, bukan hatinya, dari lisanku bukan lisannya?”

Aku menjawab: “ya”.

 

 

LELAKI TUA DI DISKOTIK

II

 

Untuk para pemuda yang hatinya selalu ingin melakukan dosa dan mencampakkan agamanya, terbenam dalam dunia di jalan kesessatan, serta berpalig dari jalan pernikahan…)

 

Dia mengkisahkan: “Di saat datangnya petunjuk itu, dan kami dengar suara lelaki tua itu dengan tenang dan khusyu berkata kepada kami, seakan muncul bulan purnama di antara awan hitam di mlam kelam, memberi sinar pada kami, mengajak pada Allah. Tidak seperti ajakan pengkhotbah jum’ah di atas mimbar. Itu adalah ajakan tersusun untuk menarik simpati orang agar mengikutinya, juga tidak seperti wibawa para ahli hukum sementara mereka melupakan lupa untuk mengingat Allah dalam nasihat-nasihat mereka, lupa akan kebesaran Allah. Tetapi ini adalah ucapan seorang muslim yang sadar bahwa dia berkata demi penguasa para raja. Hatinya hanya berpaut pada Allah, dia hanya mengharapkan dan tidak takut selain pada-Nya. Aku bersaksi bahwa Allah telah membukakan pintu langit untuk ajakannya. Dan Dia mengabulkan doanya, sebab kami mendapati pengaruh doa itu dalam hati kami. Ketika itu ia berkata: Ya Allah, Engkau merasakan hatinya telah mengeluarkan do’a yang mengalir di udara berlinang airmata khusyu’, menyentuh hati dan menghidupkannya…”

Lalu Orang tua itu berkata: “Jangan kalian katakan ini tempat Diskotik. Tidak ada diskotik bagi orang yang berdoa kepada Allah dengan khusyu’ dan jujur, menangisi kesalahannya, kecuali menjadi masjid yang dipenuhi berkah. Dan tidak ada masjid bagi orang yang berdoa dengan lisan, sementara hatinya masih terbelit syahwat dan akalnya membayangkan kejahatan, kecuali menjadi tempat maksiat. Allah tidak pernah melihat pada bentuk, derajat, dan kemewahan perhiasan kalian. Tetapi Dia melihat hati kalian. Banyak di pasar dan kedai-kedai kopi, gedung-gedung film tedapat kekasih Allah yang dicatat khusnul khatimah karena keihlasannya! Tetapi banyak di tempat-tempat zikir dan ibadah, para kekasih syetan yang memamerkan agama mereka untuk mendapatkan dunia!”

Lalu syaikh itu menjelaskan tentang dunia dengan uraian yang mengagumkan. Darinya mengalir hadis-hadis yang tidak aku ingat, juga kisah-kisah orang shalih. Demi Allah, hati kami terketuk, dan Allahlah yang Maha membalikkan hati. Apa yang sesaat lalu semula kami hina menjadi terlihat agung, bahkan sangat agung. Sebaliknya kami melihat dunia ini menjadi sangat kecil sampai-sampai terlihat seperti sehelai sayap nyamuk!

Lalu ia membahas tentang syahwat kepada lain jenis. Aku ingat beberapa perkataannya, yang tidak dapat aku sampaikan ulang dengan baik. Aku sampaikan ulang sebisaku, barang kali aku salah, tetapi jangan kau pedulikan kesalahan itu dariku!”

Di antara yang ia katakan:

“Sesungguhnya Allah menyusun syahwat ini pada diri semua manusia. Lalu menjadikannya sesuatu yang mengagumkan. Rahasianya, jika engkau meletakkan pada tempatnya dan engkau taku kepada Allah, engkau akan tenang dan merasa damai. Engkau adakan mendapati dengan ketenangan itu kesehatan di dunia dan surga di akhirat. Tetapi jika engkau lepaskan ia dan tidak engkau kekang dengan tali syari’ah dan ahlak, syahwat itu akan selalu bergolak laksana api. Setiap kali engkau tambahkan kayu kering, ia akan semakin memakan kayu itu. Lalu dengan itu engkau seperti orang yang mencari air di fatamorgana, engkau akan terus kehausan. Semakin engkau cari ia semakin bertambah rasa hausmu, dan fatamorgana itu kian jauh darimu!”

“Orang fasiq melihat wanita, lalu ia manjakan matanya, hatinya akan ikut, iapun akan terus membayangkannya dengan segala macam fitnah dan dia akan kecanduan selamanya. Ia mengira dengan bertemulan terdapat kenikmatan, bahkan ia yakin bahwa segala nikmat dunia dan kesenangannya terkumpul di dalam pertemuan dengannya, sebaliknya semua derita dunia jauh dari wanita. Dan semua itu menjadikan semua tujuannya adalah dunia. Ia benar-benar menjadi gila…ia selalu berusaha bertemu dengannya, hanya demi mendapatkan kenikmatan sekejap saja…tetapi ia tidak akan pernah merasa puas…Dan dia tidak akan mendapati apa yang ia bayangkan…iapun kembali menghayalkannya…dan berhayal alangkah nikmatnya jika bersama wanita…ia mengira akan mendapatkan pada wanita itu apa yang tidak didapatkan pada wanita yang pertama…ketika kembali, sekali lagi ia dikecewakan oleh khayalannya…demikian seterusnya sampai ia berputus asa untuk mendapatkan kenikmatan, akhirnya tertarik pada wanita lain…meskipun ia berada di dekat seribu wanita, ia akan mengkhayalkan wanita yang lain karena mengira bahwa nikmat itu hanya ada pada wanita yang ia bayangkan…selamanya ia tidak akan puas…tidak akan pernah berhenti!

Apa sejatinya nikmat pertemuan? Itu tidak terdapat dalam kdekatan secara fisik. Bukan…ia adalah pertautan hati. Dan sesungguhnya Ibnu Rumi yang menurutku merupakan pujangga paling lembut dalam melukiskan wanita dan paling memahami makna cinta telah melukiskan dalam sya’irny:

“Aku sudah memeluknya, tetapi jiwaku setelah itu selalu merindukannya. Adakah setelah pelukan itu ia mendekat?

Aku mencium aroma bibirnya agar hilang dahagaku, tetapi kerinduan itu semakin membara.

Seakan hatiku tidak dapat disembuhkan, kecuali melihat dua hati yang bertemu.

Memeluk di sini bukan hanya dalam arti yang sebenarnya, melainkan kiasan. Ia tidak melihat dahaga dirinya hanya untuk memeluk semata. Sebenarnya ia berharap untuk memutus rindu meskipun harus dengan membinasakannya, sehingga seseorang kembali…dan hal itu tidak pernah ada!

Tidak…tidak ada kenikmatan dan kepuasan dalam mengumbar kesenangan. Seorang wanita yang dinikahi dengan halal akan membuatnya ridha dan puas. Seorang lelaki memberikan kesempatan, kekuatan dan hartanya untuk membentangkan tangan kapanpun ia mau…adakah dalam bentangan tangan itu menunjukkan dia waras? Adakah badannya memikul beban yang lebih berat dari nafsunya? Ia semestinya datang sesaat di mana ia lemah dan terbaring sakit, sehingga meskipun menginginkan sesuatu ia tidak akan medapatkannya. Ia duduk terpenjara. Lalu kenapa ia tidak bangun meninggalkan dosa lalu memperbaiki agama, diri dan kehormatannya? Bukankah itu lebih baik baginya daripada mengumpulkan dirinya dalam kesakitan dan jahannam?!

Di antara ciptaan Allah yang terindah adalah Dia tidak menciptakan wanita sama dalam kecantikan antara yang satu dengan lainnya. Wanita-wanita itu adalah mahluk. Tetapi rasa nikmat mereka satu tiada berbeda. Lalu apa bedanya penari bugil dengan istri-istrimu, selain bahwa yang pertama datang padamu ketika engkau lapar sambil membawakan secarik sapu tangan sutera untuk mengusapmu, lalu menaruh sapu tangan itu di sisi kiri dan menyimpannya dalam peti perak berlapis emas. Lalu ia taruh tembaga di sekeliling peti. Dan ketika engkau angkat penutup itu, laparmu kian menjadi dan engkau semakin berhasrat dengan apa yang ada di bailknya…jika telah tercapai, engkau mengira bahwa itu adalah sebutir biji dari surga, kemudian digiling oleh malaikat, dan dihidangkan oleh tangan-tangan bidadari…yang datang membawa hidangan terbuka dan telihat dengan jelas…tetapi engkau tidak memakan sapu tangan, baki dan peti. Engkau hanya memakan hidanganya tetapi engkau tidak menginginkan pakaian dan cahaya itu…engkau hanya menginginkan wanita. Padahal istrimu lebih menarik daripada dia dan lebih cantik!

Dia menyerahkan jasad yang lebih indah dan wajah yang lebih cantik, lebih bisa menjaga fitnah. Orang berkata padamu inikah kecantikan? Sesungguhnya kecantikan adalah ihlas. Engkau tahu ibumu cantik dalam pandanganmu, sangat engkau cintai. Dan pada wajahnya terpancar keagungan yang menggunung…berkilauan laksana perhiasan…tangannya laksana sayap burung. Dan engkau lihat wanita lain yang menghianatimu dan buruk rupa, meskipun di mata orang bodoh ia adalah wanita yang tercantik…!

***

 

yang kalian cari adalah kebahagiaan. Tetapi kalian tidak mengetahui jalannya, kalian tidak berfikir dengan nalar kalian. Kenapa engkau bisa sukses wahai orang kaya yang memiliki beribu-ribu jika engkau mendapatkan seribu keuntungan yang lain? karena engkau menyukai dan mencari yang seribu itu, sehingga cukup bagimu dan membuatmu puas. Dari sini tahulah engkau di situlah kebahagiaanmu. Di situ engkau merasa sakit jika kehilangannya. Seperti seorang murid yang tidak dapat meraih cita-citanya untuk memiliki duapuluh buku, dia tidak merasa sakit meskipun tidak mendapatkan seribu keuntungan itu. Bahkan sama sekali ia tidak memikirkannya. Tidakkah murid itu memiliki duapuluh buku merasa lebih kaya dibandingkan engkau yang memiliki beribu-ribu uang?!

Yang membuat orang kaya senang yang memiliki puluhan istana, ia akan merasa sakit jika ditujukkan padanya sebuah istana yang dijual tetapi ia mampu membelinya. Padahal ketika itu seorang pegawai rendah yng menenpati satu ruang sempit sewaan tidak pernah merasakan sakit ini. Ia dapat tertidur pulas di malam hari, dimana saat itu orang kaya membolak-balikkan badannya memikirkan istana yang hilang. Tidakkah pegawai rendah di kamar sewaan itu lebih kaya daripada engkau wahai pemilik istana?!

Orang fasiq yang menyanding ratusan penyanyi dan penari bugil merasa sakit jika datang penari bugil yang baru dan ia tidak dapat mendekatinya. Semalaman ia akan memikirkannya, dan menyerahkan kekayaannya dan harga dirinya untuk mendapatkannya, lalu setelah itu hidupnya jatuh. Padahal jika ia hanya melihat istrinya selam hidupnya, ia tidak akan terbujuk oleh penari itu dan tidak akan pernah tahu. Bukankah dengan demikian itu lebih baik dengan istri yang satu bagimu wahai penghayal dan para pemburu penari bugil?!

Sesungguhnya kehidupan itu seperti buku orang kaya. Tida ada ungkapan untuk menggambarkannya. Tetapi hanya dengan yang tersisa. Orang jutawab akan mencari jutaan harta lagi. Perumpamaannya orang yang tidak memiliki apapun dan tidak mencari apapun, dan orang yang mendapatkan dari hartanya segala kenikmatan…jangan begitu! Seperti binantang yang berjalan di daratan, hanya mencari sepotong makanan untuk memenuhi rasa laparnya dan seteguk air untuk menghilangkan dahaganya, serta sejengkal tanah untuk meletakkan tubuhnya. Ia memiliki bumi Allah yang luas…itulah orang yang paling beruntung. Barang siapa menerima, ia akan merasa bahagia dengan yang sedikit. Dan barang siapa rakus tidak ada sesuatu yang membuatnya bahagia, sebab jiwa itu condong pada kenikmatan. Jika engkau turuti ia, hilanglah seribu kenikmatan yang ada dan engkau akan mencari lagi yang lainnya…engkau ini wahai orang fakir akan bahagia jika suatu hari naik kendaraan orang kaya. Tetapi orang kaya yang memiliki kendaraan tidak merasakan kebahagiaanh itu. Baginya mobil seperti pedati bagimu. Bahkan bisa jadi pedati lebih terasa nikmat bagimu, bahkan mungkin ia lebih ingin naik pedati seperti keinginan pemilik makanan raja pada kacang tanah!

Sesungguhnya Allah itu, pemilik ilmu yang agung dan lembut, tidak menciptakan kebahagiaan dalam harta, keturunan dan wanita. Tetapi Dia ciptakan kebahagiaan tersimpan di antara sesuatu dan pemiliknua. Janganlah kalian menilai sesuatu dari lahirnya. Karena orang sakit akan berfikir engkau tidak akan sanggup menanggung sakitnya. Dan orang kaya jika mendapatkan kesenangan tidak pernah merasa ia mendapatkannya. Tetapi biasanya nikmat dan sakit akan hilang. Penjara itu terasa remeh bagi penjaganya, demkian pula peperangan bagi yang menjalaninya. Penguasa yang menduduki singgasana dan di kelilingi ribuan gadis cantik dari penjuru bumi selalu merasa rugi. Seperti orang yang di dalam rumahnya hanya ada satu wanita.! Nikmat yang tidak akan sirna hanyalah nikmatnya hati, nikmatnya angan-angan, nikmatnya ahli ibadah dalam pancaran petunjuk di malam hari. Dan orang-orang yang bermunajat kepada tuhannya di sore hari…Karena itu sebagian ahli sufi berkata: “Seandainya raja merasakan apa yang kami rasakan, pasti mereka akan membunuh kami dengan pedang untuk mendapatkannya”…Kepada Allah kita memohon perlindungan!

Itulah nikmat yang sejatinya. Tetapi semua itu tidak dapat dilukiskan dan diketahui.  

Orang yang kasmaran hanya mengetahui dia yang membuatnya bingung, sedangkan gadis hanya tahu orang yang berarti baginya.

Cinta berlalu pada diri penghamba waktu pada tiap detik melebihi keindahan pertemuan seperti keutamnaan matahari yang berkilauan, laut yang mengalir. Dan siapa yang merasakan akan mengetahui makna sabda Rasulullah Saw, “cintailah aku melebihi duniamu yangh indah dan wanita, dan jadikanlah penenang batinmu dalam shalat”, bukan berarti bahwa Rasulullah lebih molekd  daripada wanita_sebagaimana dilukiskan para orientalis_tetapi rahaia maknanya terdapat dalam penyertaan ungkapan keindahan dan wanita. Keduanya merupakan keindahan nikmat setiap jiwa manusia seperti shalat, keduanya disebutkan untuk menunjukkan bahwa shalat merupakan nikmat dan keindahan akan tetapi lebih bernilai dan utama…”

Sesungguhnya keinginan yang engkau temukan dalam menuruti syahwat adalah dua hal, cinta yang memabukkan dan membayangkan sesuatu yang tidak ada. Ada di antara kalian mendengar seorang fasiq telah melakukan dosa. Lalu ia membayangkan kenikmatan yang dia peroleh dengan dosanya. Angannya menerawang merasakan nikmat yang sama untuk medapatkan nikmat yang lain. telah ia abaikan kesadaran dan larut dalam dosa yang didapatkan orang lain…demikian jika ia berfikir, ia pasti tahu bahwa orang lain membeli dosa untuk dirinya sendiri dari kenikmatan yang lebih bersih dan kekal, yakni nikmat akhirat. Ia terdiam dari bujukan dan hilangnya rasa sakit. Ia tidak akan merasa sakit karena kehilangan maksiat kecuali hal itu membuat tekadnya semakin besar, dan meninggalkan jerat-jerat asing untuk melepaskan dirinya dari syahwat itu. Mata yang melihat aurat, telinga yang mendengar ucapan kotor, hati yang menerawang semua bayang-bayang dan ingatan, khayalan yang diliputi dengan gadis-gais…maka seorang pemuda tidak akan tersadar kecuali bahwa racun telah merasuk dalam dirinya dari pandangan itu. Ketika itu ia telah melupakan agama, ahlak dan kewajiban negara. Yang tersisa pada dirinya di dunia ini hanyalah mencari sarana-sarana untuk menuju nikmat itu. Hal itu hanya sesaat dalam angan-angan, tetapi menenggelamkannya dalam mimpi, lalu terucap dalam kata-kata, dalam agamanya jika ia beragama, pelajarannya jika ia seorang murid atau guru, kesibukannya jika ia pekerja…dan di situlah perintah Allah untuk menjaga pandangan. Rasulullah Saw bersabda: “Hak bagimu pada pandangan pertama dan takutlah pada pandangan yang kedua!” beliau melukiskan pandangan kedua sebagai anak panah beracun yang dilontarkan iblis.

“Setiap dosa itu bermula dari pandangan, dan kebanyakan isi neraka adalah orang yang meremehkan dosa”.

Wahai manusia, kalian telah hidup selama bertahun-tahun, kalian telah menentang Allah dan menyembahnya. Sekarang lihatlah apa yang tersisa pada diri kalian? Di mana nikmat maksiat? Ia telah hilang dari cawan hitam kalian! Di mana beratnya taat? Ia akan hilang dan meninggalkan kebaikan  yang tercatat untuk kalian! Apakah kalian tidak mengharap sekarang seandainya tidak bermaksiat pada Allah sama sekali?! Adakah kalian membayangkan sedang dalam detik-detik kematian…padahal mati pasti terjadi?! Apa yang bisa menyelamatkan dari sakit kematian, apakah semua kenikmatan yang didapatkan di samping sakit itu?! Lalu kalian berakhir di depan pengatur langit dan bumi. Padahal kehormatanmu telah hina karena dosa, dan orang-orang yang sombong digiring ke hadapan Allah sambil bertelanjang kaki dan badan, kemudian terdengan suara memanggil dari sisi Arsy: “bagi siapa semua kerajaan pada hari ini?! Lalu terdengar orang menjawab: “Hanya bagi Allah yang maha esa dan kuasa”. Dan ketika itu cobaan sangatlah besar. Orang-orang beruntung dipanggil…lalu dibukakan pintu surga untuk mereka…juga dipanggil orang-orang yang celaka…mereka dipermalukan di hadapan semua mahluk dan dicampakkan ke dalam neraka mereka kekal di sana…! Pada hari itu di mana semua kenikmatan ini?! Di mana semua keindahan penari telanjang ini?! Di mana kenikmatan badan betemu dengannya?! di mana kecantikannya dan keindahannya, dan nanah mengalir dari tubuhnya?!

Wahai manusia!!, dunia ini ada penciptanya dan di dunia ini ada keadilan. Orang yang berzina sesungguhnya berdosa meskipun hanya dengan dinding rumahnya. Apakah kalian memiliki anak-anak perempuan?! Apakah kalian memiliki saudara-saudara perempuan?!…jagalan mereka seperti menjaga istri-istri kalian. Sebab kalian tidak tahu apa yang terjadi esok. Mungkin saja anak perempuan kalian berdiri di tempat ini. Kalian bertepuk tangan terhadap perempuan miskin ini. Padahal ia memiliki ayah dan ibu…ia tidak lahir dari batang pohon!!

Sahabatku berkata: “Ketika syaikh menghentakkan kata-kata ini, air mata kami mengalir karena iba pada penari telanjang itu. Jadilah kami memandangnya seolah memandangi anak perempuan kami dan berjalan untuk menutupi dan melindunginya agar tidak kami lihat lagi kemolekan tubuhnya…Allah telah menurunkan pertolongannya setelah itu. Lalu kami mengeluarkan anak gadis miskin itu dari tempat celaka itu, lalu kami nikahkan dia dengan laki-laki shalih. Sekarang dia berdiam di rumah menjadi ibu bagi anak-anaknya!!”

Dia berkata: ‘Ketika itu pemilik diskotik berkali-kali menghampiri orang tua itu dan bertekad untuk menutup diskotiknya hari itu juga atau esok hari, kemudian beramal shalih!!”

Itulah kisah orang tua di diskotik! Seandainya semua diskotik beliau masuki!

Tetapi beliau tidak mempedulikan aku dan melihat wajahku. Aku terdiam beberapa saat, dan barulah aku berkata…

***

 

ketika itu ia melihatku, maka aku membayangkan bentuk lain yang sangat agung dan indah, dan namaku dipenuhi oleh panggilan dan pendengaran, semua orang membicarakannya dan berlomba untuk meraih bentuk itu…lalu membelinya dengan dosa pengakuan dan menjadikan aku sebagai pengajarnya.

…aku menikahinya dan mendapatkan kemuliaannya dengan keridhaan. Aku berhijrah untuknya dan keluargaku karena ia tidak mau untuk hidup bersama orang-orang yang berdosa. Aku mendapatkan keuntungan dekat dengan dia dan sama sekali tanpa kesusahan dan kesedihan…lalu aku menemukan cinta antara kami pada anak lelaki yang tampan. Aku melihat pada kedua matanya terdapat kebahagiaanku. Aku merasa hidup setelah mati…seandainya dia…..tidak….aku tidak akan katakan apapun. Aku berdosa seandainya menikah dengan wanita lain.

 

***

 lalu ia berdiri dan melangkah tanpa mempedulikan aku. Ia tidak mengucapkan salam untukku aku menyusulnya sambil berteriak: “…kahirnya…akhirnya…tuan….ustadz…”

ia tidak melihatku sampai aku memotong jalannya dan dia berkata keras di depanku sambil marah…

       “Apa yang engkau mau dariku?”

       “akhir cerita itu”.

       “Apakah engkau tidak dapat mengira-ngira sama sekali? Aku sudah berlalu bersama kaumnya. Dan ia mengabarkan padaku ia bosan hidup bersamaku, dan anak itu bukan anakku, tidak ada kabar lagi setelah itu”

 

  


AKHIR CERITA SI ORANG TUA

 

Terbit tahun 1934

 

…..sekali lagi orang tua itu berkata lantang, menyuruh murid-muridnya bubar. Tetapi ia tidak mendengarkan permohonan. Iapun melihat kursi-kursi yang ternyata sudah kosong. Murid yangbterakhir sudah sampai diujung pintu keluar. Ia tersenyum bahagia dan segera lenyap di kelokan jalan. Sekolah itu dicekap kesunyian lagi.

Orang tua itu menarik nafas dan menjatuhkan tongkat di sisinya, lalu meraih kursinya yang panjang untuk beristirahat menghilangkan kepenatan seharian. Ia seperti terdiam lama sekali, cahaya kekuningan yang menerangi kamar berkiluan laksana matahari memenuhi dirinya dan membuatnya berwibawa. Ia memejamkan kedua matanya dan membiarkan dirinya bermimpi.

Aku merasa pemandangan ini tidak seperti yang sudah terjadi. Saat ini ia terbalut baju kelupaan dan tercampak dalam ketiadaan. Ia berusaha bangun sekali lagi lalu kembali ia terpekur seperti tutup bioskop. Tetapi bioskop hidup dalam masa yang panjang. Waktu berlalu padanya seperti sehari atau setengahnya, tujuhpuluh tahun dia lampaui sekejap mata. Pandangannya hanya untuk bekerja mengajar anak-anak di Damaskus selama tujuhpuluh tahun tanpa istirahat di sela-selanya kecuali pada hari jum’at. Lalu kembali pada pekerjaannya sampai hari sabtu dengan kondisi menyenangkan, ridha dan cekatan.

Ingatannya kembali pada hari dimana ia memulai hidupnya untuk mengajar. Masa muda telah berlalu duapuluh tahun. Itu adalah saat yang jauh jika dipikir ada tiga perempat abad. Masa telah berputar tujuh puluh putaran…ya karena kemampuan pikiran manusia! Bagaimana mungkin masa berputar seperti jarum jam maju dan mundur?

Madrasah tempatnya bekerja hanya memiliki satu ruangan. Tertutup pintu besi yang tersisa, ia adalah warisan Damaskus yang terbuka bagia saipa saja yang menghendaki, dari Damaskus yang terpelihara dari jarahan. Di pintu itu terdapat hembusan budaya Arab yang dapat dirasakan orang yang melewatinya, seperti orang merasakan dari pintu Abu Ubaidah ibn Jarah. Pintu ini bukanlah di kenal sebagai pintu munakhaliyah seperti dikenal saat ini. Tetapi ia disebut sebagai pintu buntu, karena sebelum dibuntu pintu ini digunakan untuk para penguasa Ghasanah. Ia enghadap ke istana al-Baris di mana para penguasa Ghasanah tinggal di dalamnya.

Mereka meminum di cawan burais yang sejuk dan dihiasi rantai nan indah.

***

 

ia menuturkan bagaimana menghabiskan hari-harinya seorang diri tanpa seorangpun muridnya yang datang, bagaimana pula di sore hari ia bergegas kembali ke rumahnya sebelum pintu-pintu Damaskus diselimuti kegelapan dan jendela-jendela terkunci sejak isyak menjelang. Hari-hari dimana orang-orang dalam kemuliaan dan ketenangan. Mereka tidak mengenal permainan-permainan Barat dan segala kehinaannya. Mereka tidak mengenal menghidupkan malam dengan kebejatan dan membunuh siang dalam kemalasan, bagaimana mereka memiliki cita-cita yang kuat dan trengginas. Hati tidak bercampur dengan keputusasaan, tidak pernah berpaling dari tujuan. dan esok harinya pada hari kedua ia berangkat ke sekolah yang ia rintis di negara yang tidak mengenal baca tulis kecuali dua dari seribu penduduknya. Lima orang murid datang padanya dan iapu segera melayani. Ia bukanlah professor yang memiliki ijazah…tidak pula di Damaskus terdapat orang yang menyandang gelar B.A ataupun sarjana. Tetapi ia sangat memahami ilmu-ilmu Islam dan Arab. Ia telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencari ilmu hingga menguasai peradaban umum yang terkenal dengan baik. Kemudian ia bertindak mengajar hanya demi pahala dari Tuhannya serta mengikuti kecintaan dirinya. Ketika murid-murid itu datang, ia melihat pada diri merekalah ia merasa bangga sehingga dengan sepenuh hati ia mengajar dan mendidik mereka.

Hatinya bersinar dengan mengingat mereka, iapun mendoakan dan mengasihi mereka.

Sungguh mereka adalah orang ahli amal yang paling mulia. Busana mereka sempurna dan gerakan mereka menandakan kejantanan. Hidup mereka hanya terbatas di sekolah dan rumah. Jiwa mereka tidak mengenal kehinaan Barat. Dan Barat tidak mampu membujuk kami dengan tipuan dan permainannya serta generasi mereka yang maju. Anak-anak mereka yang dididik dengan ilmu dan dibekali senjata lalu diajari bagaimana mereka membunuh para pengikut di Timur yang mulia. Mereka dalam didikan yang demikian.

Orang tua itu merasa bangga dengan murid-murid itu yang saat ini telah menjadi renta. Satu persatu mereka meninggal. Lalu di mana murid-murid itu saat ini, yang telah terbuai dengan keindahan dan terlelap dalam permainan hina?

Ingatannya dijejali dengan bayang-bayang yang berputar. Dia melihat bagiamana dia dulu bertemu dengan murid-muridnya ketika masih kecil, lalu dia ajari dan didik mereka dan menjadikan pemuda yang tangguh. Kemudian dia panggil mereka setelah menyematkan nama laksana orang tua dan anaknya. Mereka sekarang menghianati sekolah untuk memasuki kehidupan, meninggallan bangku diskusi menuju kursi-kursi peristirahatan. Mereka menganggap bahwa ijazah sebagai puncak tujuan ilmu dan kunci ketika mereka gunakan. Derajat dunia membius hati mereka dan disajikan pada mereka segala kesenangan. Mereka tidak tahu bahwa dalam kehidupan terdapat bagian selain yang tercatat dalam buku, dalam ilmu terdapat sisi yang tidak dijangkau oleh sekolah? Bagimana mereka menghabiskan hari-hari panjang dengan melupakan rumah dan sekolah, dan merasa bebas di hati setelah memotong semua gelora jiwa, tidur dalam kesakitan dan kekosongan, hanya mengenal Allah dalam derita. Lalu memohon pertolongan Allah dan memulai pekerjaan bersama murid-murid baru, berusaha menemukan ganti dari diri mereka apa yang telah hilang, sampai ketika buah telah masak terrampas dari tangannya. Bagiannya sama seperti para pendahulunya: mereka melupakannya sejak melangkahkan kaki mereka di pintu. Mereka berpaling darinya ketika bersua di jalan, memalingkan pipi, menutup hidung mereka dan mereka telah menjadi pengusaha yang kaya atau pegawai tinggi, atau tokoh-tokoh terhormat_ kepada guru yang miskin yang telah mengajarkan kitab kepada sebelas ribu murid. Sebelas ribu, aku mengajar mereka dan menghabiskan hidupku. Ia berjalan kepayahan tersapu angin lalu membuka kedua matanya pada wanita di sisinya. Iapun melihatnya dan menatap seolah-olah tersadar akan jenggotnya yang memutih berjuntai, usianya melampaui sembilan puluh tahun. Sekali lagi ia mengatakan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun lalu meminta khusnul khatimah pada Allah.

 

***

Di hari yang tenang itu ia minum-minum di mana ketika itu di Damaskus hanya ada sekolah itu. Sekarang ini banyak sekolah berjumlah ratusan, tetapi masyarakat tidak lagi menaruh minat pada sekolah kecuali pada sekolah-sekolah asing. Mereka melupakan sekolah jenis ini, yang memajukan anak-anak mereka untuk mendapat pengakuan umum. Mereka memelihara agama dan negara mereka dengan membayar duapuluh ribu setiap bulan, tetapi rela menyerahkan dua hingga tiga ratus ke sekolah-sekolah Perancis, Italia atau  Inggris, agar anak-anak mereka kembali sebagai orang perancis, Italia atau Inggris…ah alhamdulillah atas semuanya. Lhamdulillah…kami masih menemukan upah seharga sepotong roti.

Dia tersentak ketika pintu diketuk kerash bersahut-sahutan:

“Silahkan masuk…dari siapa buku ini?”

“Dari dinas penerbitan”

orang tua itu membaca buku sekali, dua kali dan tiga kali. Wajahnya menjadi pucat menahan kesedihan. Lalu ia bangkit menuju mejanya sambil terdiam dan mengeluarkan  buku besar dan mengusap debu dari sampulnya. Perlahan ia membolak-balik untuk mencari sebuah nama di antara sebelas ribu nama yang tercatat di dalamnya. Ketika ia temukan, air matanya terurai dan terduduk di kursi.

“Inikah akhir dari perjalanan? Ah…alhamdulilah atas semuanya…segala puji bagimu Tuhan..dia adalah muridku yang aku didik dengan hatiku, aku ajar orang taunya dengan hatiku dan anaknya juga setelah itu. Tetapi tidak apa, ia telah memegang jabatan sebagai pimpinan kementrian dan dia bisa berbuat apa saja. Ia kembali dan membaca tulisan itu untuk keempat kalinya.

“..ketika diharuskan bagi pengelola pendidikan dasar agar menyandang gelar B.A, dan ketika kalian tidak memiliki ijazah apapun, sesungguhnya kementrian telah mengancam kalian dengan mengharuskan menunjuk pemimin lembaga pendidikan kalian yang memenuhi syarat-syarat hukum sejak bulan pertama tahun ini…”

Dia merasa seakan hatinya berpindah ke matanya, sehingga meneteskan airmata mengaliri jenggotnya yang memutih, lalu ia berkata:

Alhamdulillah atas segalanya. Lalu ia berdiri untuk melaksanakan shalat ashar.

 

***

   

 

10 pemikiran pada “Cerpen Negeri Dongeng (Terjemahan dari Teks Arab)

  1. Beribu maaf nawal, itu teks sudah lama gak kesimpen, tapi kalo gak sahal jadi satu dengan cerpen “kalilah wa dimnah”.

  2. q minta crita pake bhsa arab yach……………q pengan ngerti kyak pa cieh… critanya, smakakah dg critany dg bhsa indonesia??????

  3. kalo mo tahu versi Arabnya, mungkin bisa baca buku “kalilah wa dimnah” dan “alfu lailah wa lailah”. coba cari di perpus kampus2 islam atau sastra arab.

  4. Wah….. Maaf Dewi Nanda, dah lama sekali waktu dapat order nerjemahin cerpen dari anak sastra arab he he….

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s