SBY PANIK

SBY PANIK….!!

Sungguh menggelikan menyaksikan konferesi pers yang dilakukan SBY beberapa hari lalu, terkait dengan pernyataan Ahmad Mubarok yang dinilai melecehkan partai Golkar.
Bagaimana tidak menggelikan, dengan terbata-bata SBY berusaha meluruskan ucapan Mubarok yang salah menyebut perolehan partai Golkar pada pemilu tahun depan hanya berkisar di angka 2,5 persen saja. Kesan tegas dan marah yang berusaha diperlihatkan SBY ketika menyampaikan konferensi persnya, maupun pada saat menjwab peranyaan wartawan justru semakin menunjukkan kalau dia saat itu sedang panik.
Sangat mudah menebak mengapa SBY panik. Bagi saya yang orang awam saja dapat dengan begitu mudahnya mengetahui situasi yang dialami SBY. Keberhasilan SBY mengendalikan tampuk pemerintahan tidak lepas dari dukungan partai Golkar. Perolehan parta Demokrat pada pemilu 2004 yang hanya berkisar 4-6 % jelas bukan kekuatan politik yang signifikan di Senayan. Saya sependapat dengan ungkapan Syafii Maarif beberapa waktu silam yang menyebutkan bahwa JK-lah yang layak disebut sebagai the real president, sebaliknya SBY.
Simak saja pernyataan SBY ketika menjawab pertanyaan wartawan apakah kesalahan Mubarok tersebut dapat mengganggu hubungannya dengan JK dan koalisi Golkar-Demokrat dan apakah tindakannya melakukan klarifikasi yang ia lakukan sebagai langkah perbaikan hubungan yang sedang meruncing itu?. Dengan berkilah SBY menjawab tidak ada yang perlu diperbaiki, dan hubungan dia dengan JK tetap baik-baik saja.
Saya malah menaruh simpati pada Mubarok. Sejauh yang saya tahu (sebatas di media massa), dia seringkali menjadi orang yang paling gigih membela SBY dalam berbagai forum debat dan dialog yang diselenggarakan oleh beberapa TV Swasta Nasional. Tetapi hanya karena kesalahan lidahnya dia kemudian menjadi satu-satunya orang yang patut disalahkan dan menurut SBY telah ditegur dengan sangat keras. Saya juga lebih menaruh apresiasi kepada salah satu pengurus DPP partai Demokrat (lupa siapa sih namanya?) yang dengan arif menjelaskan kejadian yang sesungguhnya (meskipun apologis). Menurutnya yang dimaksud Mubarok adalah 25 (duapuluh lima persen) bukan 2,5 (dua koma lima persen) perolehan suara partai Golkar di pemilu 2009 yang akan datang. Penjelasan tersebut saya kira lebih masuk akal, karena bisa saja Mubarok salah membaca angka, atau mungkin saja foto kopian data yang dia terima terdapat bercak hitam tepat di antara angka 2 dan 5, sehingga 25 dibaca 2,5 %.
Mestinya, menurut saya nih, SBY tidak perlu sepanik itu, apalagi sampai menggelar konferensi pers segala. Justru hal itu dapat berubah menjadi bumerang, dalam arti Partai Golkar mempunyai alasan lebih jelas untuk menceraikan Demokrat dan lebih mengutamakan kadernya sendiri untuk diusung sebagai Capres dan Cawapres. Apa lagi saat ini kader Golkar sedang laris-larisnya. Sebut saja Sri Sultan Hamengku Buwono X, Fadel Muhammad, Akbar Tanjung, Fahmi Idris, Kalla sendiri dan sebagainya. Sementara Demokrat…?! Sebesar apapun pesona SBY saya kira belum mampu mengatrol perolehan suara pada pemilu mendatang sampai 25%, seperti yang dicanangkan SBY pada RAPIMNAS partai tersebut pekan kemaren. Belum lagi tidak ada kader yang mumpuni di dalamnya selain SBY sendiri. Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, ataupun Angelina Sondakh belumlah apa-apa jika dipaksakan untuk bertanding di perhelatan pemilu mendatang.
Kalau sudah demikian halnya, siapa yang dirugikan? Ya Demokratlah, masak Demokrat Dong? anak kecil aja tahu…!

4 pemikiran pada “SBY PANIK

  1. Kalau soal loyalitas atau kesetiakawanan, jangan tanya SBY. Kayaknya dia belum pernah belajar tentang hal itu. Meski sekolahnya S3 lho, bahkan dapat Doctor HC di mana-mana

    Dia tega bilang dizalimi Megawati, hanya karena tidak diajak rapat.

    Sekarang dengan JK yang dulu sumber dananya, dia coba-coba mengingkarinya. Padahal kalau kampanye Pilpres 2004 pake dana SBY pribadi, paling abis pidato 4 kecamatan, SBY sudah bangkrut.

    So, kualitas kenegarawanan diukur dari loyalitasnya.
    Hanya oportunis lah kata yang tepat untuk SBY.

    Ingat, pernahkah dia menyabung nyawa demi bangsa Indonesia?
    Megawati, Amien Rais, Budiman Sudjatmiko, Dita Indah Sari, Munir… sudah pernah.

  2. Untuk membentuk sistem yang baik kita harus menyuarakan kebenaran dengan tegas. Harus meluruskan apa yang kiranya akan membentuk preseden buruk di masa depan. SBY terlalu banyak merusak tatanan di negeri ini dengan pencitraan yang berlebihan.

  3. Sepakat dengan sdr. Ali Masykur. Harus kita waspadai bahwa SBY dan kroni-kroninya sedang melancarkan politik “Personal Branding” untuk kepentingan praktis pemilu 2009. Sebagai bangsa yang cerdas hendaknya kita bisa dengan obyektif melihat siapa dan bagaimana SBY sebenarnya. JAngan sampai keblinger, kebujuk dan dibohongin lagi.

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s