TRAGEDI SELEMBAR SURBAN CATATAN KECIL FILM PEREMPUAN BERKALUNG SURBAN (PBS)

TRAGEDI SELEMBAR SURBAN
CATATAN KECIL FILM PEREMPUAN BERKALUNG SURBAN (PBS)
(DIDIM)

Mungkin agak terlambat saya menonton film Perempuan Berkalung Surban (PBS), sebuah film yang konon bisa menumbuhkan kesadaran pentingnya kesetaraan gender, membuka belenggu doktrin agama dan tradisi patriarkhis. Simbol “surban” yang merupakan atribut pakaian seorang Kyai melambangkan kelelakian, otoritas keagamaan, kekuasaan dan bahkan ke’a’iman (kecenkiawanan), menjadi sangat menarik ketika disandang oleh seorang perempuan. Barangkali orang akan bertanya; pesan apa yang mau disampaikan melalui film ini? Apakah desakralisasi symbol-simbol keagamaan, ataukah pelecehan sosok kyai? Mungkin juga orang akan menduga mungkinkah ada misi tersembunyi dalam film ini? Saya piker sah-sah saja orang menduga-duga dan bertanya sesuai dengan persepsi masing-masing. Dan sah sajakan jika saya menyampaikan pendapat saya di sini?
***
Peran Revalina memang cukup apik dalam film tersebut yang menggambarkan sosok “neng” dengan wawasan kritis dan cukup maju melebihi zaman dan tradisinya. Anisa kecil yang ditampilkan dalam film tersebut juga cukup natural, layaknya akan kecil cerdas yang tidak mau menerima begitu saja “pembedaan” laki-laki dan perempuan, sosok yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu, tidak mau mengalah dan keras kepala. Begitu juga dengan sosok “gus” (siapa lah lupa namanya) suami pertama anisa, meskipun ditampilkan dengan karakter yang terlalu berlebihan. Sayangnya, beberapa karakter lain dalam film itu diperankan sangat buruk, menunjukkan kalau sutradara PBS tidak memahami dengan baik apa dan bagaimana itu pesantren, kyai, atau bahkan Islam. Berikut beberapa catatan cacat film Perempuan Berkalung Surban:
1. Profil Kyai yang ditampilkan begitu otoriter, pemarah, ringan tangan, mudah berkata-kata kasar, membentak dan seterusnya. Simak saja bagaimana ketika sang “kyai” menolak keinginan Anisa kecil untuk belajar naik kuda, sementara yang lain boleh. Dengan sombongnya sang kyai bilang: “karena kau bukan mereka, karena kau perempuan, karena kau ini anak Kyai!” Perhatikan juga bagaimana sang ‘kyai” menghajar Anisa kecil di kamar mandi ketika pulang dari sekolah sambil ngambek karena tidak ditunjuk menjadi ketua kelas meskipun menang dalam voting. Bagaimana ketika sang kyai begitu khawatir dengan masa depan pesantrennya akibat kekritisa Anisa…..! Sungguh karakter yang sama sekali tidak mencerminkan sosok Kyai. Jika ada “tuduhan” bahwa kyai menganut budaya patriarkhi barang kali masih bisa diterima, sekalipun hal itu juga masih perlu dipertanyakan. Bagaimanapun Kyai adalah manusia yang terbentuk oleh budaya di mana dia tinggal. Seorang (kyai) yang lahir di tengah budaya matrilineal pasti memiliki keberpihakan lebih kepada perempuan. Tetapi jika lahir dan dibesarkan dalam lingkup budaya bilateral hampir bisa dipastikan memiliki kecenderungan memandang secara seimbang antara laki-laki dan perempuan.

Begitipun ketika kyai hidup di ruang budaya patrilineal/ patriarkhi (sebagaimana dalam film tersebut), adalah sangat wajar jika memiliki keberpihakan pada kaum lelaki. Belum lagi jika melihat kenyataan bahwa Islam lahir dari rahim budaya patriarkhi yang sedikit banyak turut membentuk dan mempengaruhi system ajarannya.
Akan tetapi, kyai adalah juga manusia yang memiliki “budhi” dan “daya” , nalar dan logika serta kesadaran yang mampu berperan sebagai sistem inisiasi dari dalam diri sendiri bahkan system produksi yang menentukan bagaimana dia bertindak, berbuat dan mengambil keputusan. Kyai bukanlah mesin yang sepenuhnya tunduk pada perintah system yang testruktur tanpa memiliki kuasa atas diri dan tindakannya.
Dari sinilah kita melihat bahwa sutradara terlalu melihat sisi budaya pada diri seorang kyai yang kebetulan hidup di alam patriarkhi. Padahal, ketika kyai mengimplementasikan ajaran agamanya selalu dibarengi dengan kesadaran untuk menciptakan apa yang disebut sebagai kemaslahatan bersama (luas). Bahkan tidak jarang kyai menjadi poros perubahan atas doktrin-doktrin agama yang tidak relevan lagi dengan realitas sosial. Maka menjadi tidak arif manakala hanya sisi buruk dari seorang kyai (yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai sisi buruk manusia) yang ditampilkan dalam film PBS.
Dugaan saya, sutradara terjebak pada teori relasi patron-klien, dimana kyai dianggap sebagai sosok yang berusaha mempertahankan otoritasnya sementara santri sebagai klien yang juga berharap “sesuatu” dari sang kyai. Teori ini secara umum benar, tetapi tidak mampu menelisik lebih dalam pola hubungan kyai-santri yang sesungguhnya.
2. Kesalahan fatal lain dalam film ini adalah penggamparan sosok ustadz dan system pembelajaran di pesantren. Pertama, sama halnya penokohan kyai dalam film tersebut, sosok ustadz yang dihadirkan jauh sekali dari realitas yang sesungguhnya. Lihat bagaimana sang ustadz yang ditunjukkan sebagai orang dengan wawasan sempit, kaku, kolot, tidak menerima kritik, kata-katanya kasar, perilakunya tidak sopan, duduk di atas meja ketika mengajar, jauh lebih buruk ketimbang preman kampung. Kedua, di film PBS ditampilkan system pembelajaran yang tidak pernah ada dalam pesantren (salaf), dimana seorang ustadz berorasi bebas dalam menyampaikan materi pelajaran tanpa pedoman buku/ kitab. Selama ini system pembelajaran pesantren selalu berpijak pada teks turats. Materi apapun yang disampaikan harus selalu merujuk pada teks tertulis yang dijadikan pegangan dalam mengajar, entah itu dengan system klasikal, bandongan, sorogan, takror/ tikror, mbalah ataupun yang lain. Cara-cara orasi ilmiah hanya berlaku dalam forum umum dengan audiens masyarakat umum juga, bukan audiens santri seperti dalam film ini.
3. Kesalahan lain yang sangat mengganggu bagi orang seperti saya yang pernah hidup di lingkungan pesantren adalah penokohan seorang “gus” sebagai orang yang semena-mena, arogan, tidak segan-segan melanggar norma agama, bahkan memperalat agama untuk kepentingannya sendiri. Dalam relitas yang sesungguhnya, gus adalah figur panutan kedua setelah kyai yang setiap perilakunya selalu disorot oleh kalangan santri dan masyarakat. Bagaimanapun kesadaran akan posisi ini menjadi sistem control positif dan efektif pada diri seorang gus untuk selalu berbuat yang terbaik dan tidak sebaliknya, kontra produktif dengan keberadaannya sebagai panutan.
4. Inilah kesalahan fatal dalam PBS; film ini menggambarkan pesantren sebagai sibuah institusi pendidikan yang dipenuhi dengan nuansa kekerasan, pengekangan intelektual, pengerdilan potensi peserta didik, eklusif dan tidak ramah terhadap perubahan social-budaya. Kesan ini sepenuhnya KELIRU jika ditujukan terhadap pesantren. Pesantren adalah institusi pendidikan yang tidak semata-mata mementingkan pembinaan intelektual, melainkan juga moral. Ajaran-ajaran agama yang memang menjadi domainnya disampaikan dengan cara-cara yang demokratis bahkan kritis. Pembinaan moral tidak dilakukan melalui indoktrinasi, melainkan mengikuti logika panopticon, dimana ajaran agama “dibiarkan” berfungsi secara efektif dengan logikanya sendiri dan peserta didik berhak untuk mencerna sesuai dengan persepsi dan logikanya, tetapi tetap terkontrol dan diimbangi penjelasan-penjelasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun keagamaan. Sesuai logika panopticon, system pembelajaran di pesantren menekankan pentingnya peserta didik menjadi pengawas bagi dirinya sendiri melalui kesadaran penuh, tanpa adanya intimidasi oleh seperangkat sanksi yang tidak mendidik. Sanksi yang diterapkan sepenuhnya bertujuan menanamkan kesadaran dan bukan semata-mata menghukum yang melanggarnya. Apakah dengan demikian pesantren kehilangan roh ilmiahnya?
Sama sekali tidak! Pesantren justru memiliki akar tradisi akademik dan riset yang sangat kuat dan panjang. Di pesantren, kebebasan berfikir diberikan sepenuhnya selama diikuti oleh sebuah pertanggungjwaban. Artinya bahwa peserta didik berhak berfikir dan meontarkan gagasan apa saja tetapi juga harus sisp bertanggung jawab atas ide dan gagasannya itu. Ini yang tidak ditemui pada system pendidikan yang lain. Pertanggungjawaban ilmiah di institusi pendidikan lain saat ini sudah dikebiri pada batas-batas tanggungjawab akademik yang lebih menekankan aspek formalitas saja. Di Perguruan Tinggi misalnya, aktifitas intelektual hanya berhenti pada bagaimana melahirkan gagasan kritis dan berkualitas menurut ukuran intelektual tanpa peduli pada sisi aksiologinya. Maka jangan heran jika sekarang banyak lahir intelektual dan pakar yang cerdas dan pandai, tetapi tidak bermoral. Maka wajar jika saya berpendapat bahwa pola pendidikan pesantren yang menggabungkan pembinaan intelektual dan moral merupakan yang terbaik dan selayaknya diadopsi oleh institusi pendidikan yang lain.
5. Kritik lain saya terhadap PBS yang mungkin bersifat subyektif adalah pencitraan Jogja sebagai kota Pelajar yang diwarnai dengan kehidupan/ pergaulan bebas di kalangan mahasiswa. Sebagai orang yang telah lama hidup di jogja (hampir 12 tahun) dan kebetulan ikut dalam kurun waktu dan suasana budaya yang menjadi setting dalam PBS (penulis tinggal di jogja juga sebagai mahasiswa PTN Islam sejak tahun 1995) saya merasa agak risih melihat pencitraan Jogja seperti dalam PBS. Barangkali hal jika yang dimaksudkan adalah kondisi Jogja pasca tahun 2000-an, saya bisa menerimanya. Akan tetapi era 90-an sampai dengan 2000, budaya jogja masih sangat kental dengan nuansa moralnya. Pergaulan antar mahasiswa/i tidak se-vulgar seperti yang ada dalam PBS, dimana cowok-cewek dengan leluasanya berduaan di kamar terkunci (yang hampir pasti bisa diduga apa yang mereka perbuat), sementara ibu kost-nya membiarkan tanpa menegur, padahal saat itu di siang hari. Sekali lagi, itu adalah profil jogja pasca 2000-an.

***
Sekalipun ada banyak kesalahan yang cukup mendasar dalam film ini, tetapi beberapa pesan positif layak untuk dicermati pula, antara lain;
1. Film PBS berhasil menanamkan kesadaran komunitas pesantren agar lebih terbuka pada perubahan dan kemajuan. Tidak hanya berkutat pada budaya teks, tetapi mampu menerjemahkannya ke dalam kehidupan social.
2. PBS cukup berhasil dalam membuka semangat belajar dan bereksperimen komunitas pesantren, agar tidak hanya memegang turats, tetapi punya keinginan untuk juga menjamah literature-literatur baru.
3. PBS berhasil membangkitkan semangat kemandirian dan perjuangan kaum perempuan untuk berusaha merubah nasib diri sendiri, seperti yang diperankan oleh Anisa sebagai seorang konsultan di Women Crisis Center Rifka Annisa.
4. PBS cukup berhasil menumbuhkan budaya menulis di kalangan pelajar dan mahasiswa, melalui penghayatan terhadap peran Anisa sebagai penulis yang berhasil.

Walhasil, penulis mengajak kepada semua saja agar lebih berhati-hati, cermat dan kritis dalam menyaksikan/ mengkonsumsi film appa saja, terutama yang menampilkan budaya/ agama Islam.

perempuan_berkalung_sorban

2 pemikiran pada “TRAGEDI SELEMBAR SURBAN CATATAN KECIL FILM PEREMPUAN BERKALUNG SURBAN (PBS)

  1. Saya seorang penggemar film dan bagi saya film adalah media buat apresisasi para penontonnya. Saya kira muatan2 yang dibawa sebuah film mengandung dua unsur yang bertolak belakang seperti kata anda yaitu unsur positif dan negatif. Dan saya pikir setiap penonton (manusia) yang bisa menggunakan otaknya tentu mampu memahami dan mengambil sisi baik serta mencerna sisi buruk untuk diambil segi positifnya.

    Saya yakin kalau setiap film yang telah diloloskan badan sensor telah memiliki kriteria tertentu yang layak tonton, apalagi telah ditetapkan untuk para penonton dewasa (dalam hal ini mampu menelaah persoalan dengan otak sehatnya).

    Saya harap para pemrotes film ini tidak menganggap semua penonton sebagai makhluk lugu yang tidak pernah makan bangku sekolahan. Seakan-akan para penonton bukanlah makhluk kritis yang mampu menggunakan akalnya. Selain itu jg saya kira sutradara dan penulis ceritanya sendiri tentu akan mengambil pelajaran dari pembuatan film ini untuk membuat film yang jauh lebih berbobot kualitasnya dimasa depan.

    Saya suka dengan ulasan yang anda buat

    Wassalam

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s