Obrolan Hari Ibu

Ini obrolan tadi pagi, ketika aku di warung bersama sekelomok mahasiswa. Sembari menyantap sarapan, aku membuka obrolan dengan basa-basi ringan. Tiba-tiba saja di antara mereka yang bertanya; “Pak, ini kan hari ibu, sudah ngaih kado buat ibu apa pak?”
Aku jawab sekenanya, “Enggaklah…. Lebih penting isi dompetnya ketimbang sekedar ucapan?”
Obrolan kami menjadi kian meriah dengan aksi saling lempar joke.
Sejurus kemudian ada yang mengajukan pertanyaan klise: “Kenapa tidak ada hari bapak ya, kan ada hari ibu, hari anak nasional. Hari bapaknya di kemanain?”
Tanpa terduga pertanyaan itu dijawab dengan cerdas (meskipun masih dalam konteks guyonan). “Mau tahu kapan hari bapak sedunia? Gampang, cari aja di kalender tanggal kelahiran Nabi Adam. Nah itu hari bapak sedunia?” ha ha ha…..! Kontan semua tertawa ngakak.
***
Aku tidak sempat memperpanjang obrolan itu karena harus balik dulu untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah (Kebetulan jarak rumahku Cuma 10 menit perjalanan kaki dari kampus). Dalam 10 menit perjalananku, aku bertanya pada diri sendiri; seberapa penting sih hari ibu nasional yang ke 81 ini? Apakah ada perubahan berarti pada perempuan Indonesia sejak dicetuskannya pertama kali hari ibu nasional di Yogyakarta dengan sekarang? Aku fikir belum ada perubahan yang cukup berarti.
Sekalipun isu kesetaraan gender dan gerakan feminisme saat ini makin nyaring terdengan, terlebih mencuatnya kasus Prita yang di-blow up sedemikian oleh media, tetapi kondisi riil perempuan Indonesia masih nyaris tidak berubah. Paradigm sexism masih mendominasi cara pandang masyarakat kita terhadap perempuan, baik dari sisi social, politik, cultural, terlebih agama. Perempuan masih kerap menjadi obyek ketimbang subyek. Istri masih menghamba pada suami, anak peremuan masih menjadi makhluk “kelas dua” dalam keluarga, para public figure perempuan masih sebatas hiasan dalam kancah pergumulan politik nasional, dan lebih menyedihkan………… kalangan selebritis perempuan yang sering gentayangan di media elektronik masih sering bangga dengan keseksian dirinya.
Kalau begitu Siapa yang salah….? Bukankah perempuan itu sendiri…?!
Maaf, kalau aku terkesan menyalahkan perempuan. Tetapi aku hanya ingin mengatakan, sudah semestinya perempuan merebut peran public dan politiknya dari kaum laki-laki. Mengharapkan kesadaran kaum laki-laki untuk suka rela menyerahkan “singgasana”nya begitu saja sama saja seperti mimpi di siang bolong. Munculnya Prita sebagai symbol perlawanan rakyat kecil dan kaum perempuan tidak karena kebaikan Siapa-siapa, tetapi karena adanya sebuah kondisi yang “memaksa” agar rakyat kecil dan perempuan seperti Prita didudukkan pada posisi yang semestinya. Tetapi, pemaksaan itu menurutku tidak harus menunggu jatuhnya korban-korban baru seperti yang dialami Prita Mulyasari.
***
15 sudah aku merenung sambil berjalan. Akhirnya aku raih ponsel dan mengirim pesan pendek ke beberapa “perempuan hebat” di sekelilingku; istri, teman, mahasiswa dan sahabat lama: Sudah saatnya perempuan menjadi subyek, bukan obyek. Majulah perempuan Indonesia. Met Hari Ibu! 3 menit kemudian puluhan sms balasan masuk; “Makasih saying, I love You (kalau yang ini dari istriku), Makacih ayah Didim (dari teman dan beberapa mahasiswiku), thank U! (dari sabahat lamaku)… dan masih banyak lagi. Dalam hati aku menggerutu; kenapa tidak ada yang membalas dengan kata-kata yang lebih panjang, lebih indah atau lebih bersemangat! Dasar perempuan Indonesia pelit ber sms….! Ha ha ha
I LOVE U IBU…..! SELAMAT HARI IBU UNTUK PEREMPUAN SE-INDONESIA!
(Kaki Muria, 22 Desember 2009)

Satu pemikiran pada “Obrolan Hari Ibu

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s