BUKU TIDAK WARAS UNTUK KAWANKU

BUKU TIDAK WARAS UNTUK KAWANKU
Aku baringkan tubuhku, sejenak lepas dari riuh pekik otakku. Aku abaikan sejenak kejengahan siang tadi saat aku dapati seorang teman dengan bangganya bercerita tentang kualitas video mesum Ariel-Luna yang katanya gambarnya buram yang juga berarti efek sinar saat pengambilan gambar kurang yang artinya mestinya resolusinya dinaikkan beberapa puluh pixel lagi….
“Ah dasar bajingan……………..!” (Umpatku dalam otak).
Aku beringsut sedikit terkejut, sadar ini sabtu sore tanggal 3 Juli 2010! Itu artinya tepat tengah malam nanti hari Ahad tanggal 4 juli 2010. Itu artinya esok kawanku menikah untuk pertama kali dalam hidupnya! Itu artinya aku mesti segera memacu sepeda motorku menyusuri jalanan Kajen yang penuh lobang, karena aku harus mencari sesuatu untuk aku bungkus sebagai oleh-oleh kecil pernikahan kawanku.
Aku menerawang sisi jalan sambil terus menata otak yang terus bertanya;
“Apa yang mesti aku bungkus untuk kawanku?”
Aku tersenyum kecut tak habis mengerti mengapa malah otakku yang mesti bertanya? Bukankah mestinya otak itu sumber pengetahuan? Bukankah manusia setengah dewa Aristoteles, si kafir Marx dan sang syaikh al-Ghazali bilang demikian? Jangan-jangan mereka tidak memahami apa itu hakikat mendasar “otak”, bukan logika, bukan pula rasionalitas…!
Aku berhenti mendadak di depan took buku yang baru saja dibuka pemiliknya. Dengan sok ramah dia mempersilahkan aku masuk. Aku nyelonong saja, masa bodoh dengan basa-basinya, toh aku yang ingin masuk, bukan dia yang harus mempersilahkan….! Otakku tidak pernah percaya doktrin ekonomi; pembeli adalah raja. Sebab kalau raja kenapa harus beli…? Mestinya raja kan boleh saja semena-mena mengambil hak dari rakyat atas nama otoritas, entah itu otoritas wakil tuhan, otoritas rakyat, otoritas hukum atau mungkin otoritas…. ya raja itu tadi. Dan aku bukanlah raja, aku adalah pembeli yang kemalaman karena dari bangun tidur tadi tidak punya planning khusus untuk membeli atau sekedar berjalan-jalan ke kios penjual buku…
Aku selisipkan mataku menelanjangi judul-judul buku yang nyaris tidak terlihat karena tertutup debu tebal.
“Ah ini dia buku yang bagus; Kado Untuk Orang Sakit”.
Pikir otakku ini buku yang paling pas untuk kawanku yang sedang sakit kurang kesadaran. Sebab kawanku itu sedang hidup dalam awang-awang idealismenya. Kawanku itu pasti sakit parah. Siapa tahu ini bisa mengobatinya… Tapi sayang terlalu tipis, tidak terlalu pantas untuk aku bungkus untuk pernikahan kawanku. Aku pungut buku itu sambil menelisik judul lain. “Ini dia, cukup lumayan bagus; Tidak ada Nomor Dua dalam Perkawinan”. Pikir otakku ini bisa sedikit mengikis ego kawanku yang mungkin belum cukup stabil dalam membina pernikahan. Tapi bukankah kawanku itu memiliki otak yang cukup usil yang nyaris selalu bisa mencari pembenaran egonya?! Lha dalah… Enggaklah, percuma aku bungkus buku itu untuk perkawinan kawanku yang berotak usil.
Setengah putus asa aku berhenti di sudut paling ujung. Terlihat buku tebal, di cover depannya tertulis; Kado Pernikahan, Psikologi Suami-Istri. Aku kernyitkan lipatan dahiku.
Otakku geram:
“Buku apa ini, tidak intelek, tidak bermutu, tidak layak untuk dibaca.
Pasti penulisnya bukan orang yang sedang waras…!”
Otakku terus memaki:
”Tapi, kenapa buku-buku seperti ini yang selalu dicari orang….?”
”Apakah mereka semua tidak waras?”
”Mungkinkah hanya aku dan mereka yang seotak denganku saja yang waras?”
”Atau….. ah, masa bodoh…!”
Biarlah detik ini aku ikuti tradisi orang-orang tidak waras itu. Aku ambil saja buku itu untuk aku bungkus untuk kado pernikahan kawanku. Tapi sebentar…! Tertulis dua digit angka, kode harganya.
”Sialan…!” Kenapa buku kurang waras ini mahal? Apakah memang sekarang zaman telah berubah? Waras itu murah, tidak waras itu mahal…?”
Otakku kian geram, tapi tanganku tetap saja menggerayangi dompet di saku belakang celanaku. Tanganku membuka dompetku yang agak lusuh meskipun baru aku beli setahun lalu. Aku intip lipatan lembar-lembar uang di dalamnya.
”Ah… masih cukup”. Toh belum genap seminggu aku terima gaji hasil rutinitasku meneriakkan ideology, teori dan firman, mendoktrin mereka yang dilabeli mahasiswa! Lagian ini demi merayakan kebahagiaan kawanku yang terjerat dalam jebakan pernikahan. Biarlah buku tidak waras ini sedikit menghiasi sudut memori kawanku itu, setiap kali nanti bercerita tentang pernikahannya pada anak, cucu dan cicitnya.
Aku tidak berharap otak kawanku berfikir untuk membalas bungkusan buku ini, dengan membungkus buku tidak waras yang lain untuk kado hari pernikahanku nanti. Sebab aku juga sudah terjebak dalam pernikahan dan belum berani berpoligami seperti mereka yang waras…. meskipun sebatas dalam terawang. Aku harap otak kawanku sadar, ini adalah formalitas yang mungkin bisa mengikat aku dan diri kawanku dalam ikatan yang bukan jebakan, seperti perkawinan. …..
Tidak lupa aku selipkan do’a: Semoga engkau bahagia dalam jebakan ikatan pernikahanmu, kawanku!
Aku bayar…. Lalu aku melengos pergo begitu saja tanpa peduli ucapan terimakasih dari si penunggu kios. Aku masih punya hajat yang lebih besar lagi, menyaksikan pertandingan sepak bola Brazil VS Jerman. Sebuah hajat yang lebih waras menurut otakku, setidaknya dibandingkan ribut-ribut membahas video mesum Ariel dan Luna Maya.

Sabtu senja, 3 Juli 2010, di kaki bukit Muria

Kak Didim

Satu pemikiran pada “BUKU TIDAK WARAS UNTUK KAWANKU

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s