TADARRUS RAMADHAN (1)

INFAQ
Ramadhan selalu memberi berkah kepada siapa saja. Tidak pandang itu umat Islam ataupun yang lain, yang berpuasa atau tidak. Lihat saja, dunia hiburan semacam televisi selalu meraup untung yang berlipat. Spot-spot iklan khas ramadhan semacam tayangan jelang sahur dan menjelang buka puasa menjadi ladang keuntungan yang berlipat. Bagi pelaku hiburan (artis, entertainer, mungkin juga ustadz/ah seleb) berhak atas kenaikan honor yang diterima. Yah…. itulah Ramadhan selalu memberi berkah bagi siapa saja.
Peluang bisnis dengan memanfaatkan momen Ramadhan dalam dunia pertelevisian tidak selalu harus dilihat dari sudut pandang negatif, toh nuansa syiar juga tetap kental. Selain tayangan pengajian, sinetron-sinetron religi (lepas dari kualitasnya ya), ada lagi yang menjadi perhatian saya selama ini, “Iklan!”. Mengapa iklan? Lihat saja kenyataannya, sejak sebulan menjelang Ramadhan hampir semua statsiun TV menayangkan iklan yang dikemas dengan muatan keagamaan, mulai dari iklan biskuit, minyak goreng, mi instant, kartu perdana sampai sandal jepit.
Ada salah satu iklan yang membuat aku tersenyum-senyum sendiri, tentang anjuran infaq yang dikeluarkan oleh sebuah produk. Kalau tidak salah tag line-nya berbunyi; “Ramadhan bulan Berinfaq”. Aku jadi ingat saat-saat masih di Jogja, awal tahun 2002. Ketika itu aku bekerja di sebuah LSM yang bergerak di bidang pendidikan anak-anak. Ketika itu aku menjadi manajer bidang ekonomi. Aku sekitar dua bulan bekerja aku kenal dengan seorang rekan perempuan sekantor yang mengurusi bidang pendidikan, sebagai sekretaris. Perkenalan kami biasa saja, selayaknya teman sekantorlah. Sampai suatu saat aku tertegun mengetahui sesuatu yang dia lakukan, yang menurutku sangat luar biasa!
Sudah lazim pada setiap awal bulan kami terima gaji. Tanpa sengaja aku memergoki rekanku itu sedang menghitung lembar-lembar uang gajinya. Yang membuatku agak heran, dia memisahkan lembaran-lembaran uangnya menjadi dua bagian, diletakkan berjajar. Secara iseng aku bertanya; “wah kelebihan uang ya neng?”
Dengan tergagap dia menyembunyikan uangnya sambil berkata; “Eh.. enggak mas, mana bisa lebih gaji segini. Malah kalau boleh mau ngutang nih, he he?”
“Lha itu, kenapa dipisah-pisah uangnya, berarti ada kelebihan kan?” Pasti yang sebelah itu budget shoping, sebelahnya lagi untuk saving?” Aku mulai bertanya penuh selidik.
“Ndak mas… ini aku menghitung infaq yang harus aku keluarkan bulan ini” Jawabnya. “Infaq…apaan?” Tanyaku lagi.
“Iya infaq” Dia menjawab dengan serius, lalu meneruskan: “Setiap bulan kan aku selalu menyisihkan 2,5% gaji untuk infaq. Biasanya aku berikan ke yayasan di tempatku biar dipakai membiayai pendidikan anak-anak yang kurang mampu. Ya jumlahnya dikit sih, tapi apa salahnya. Lagian kalau tidak aku cicil tiap bulan begini, di akhir tahun berat mas ngitungnya”.
“O gitu ya..?” Kataku singkat.
Sepenggal percapakan kami yang cukup singkat itu menjadi titik bali bagi kehidupanku. Aku merasa malu sebagai orang yang dididik agama secara ketat sejak kecil, tetapi mengabaikan ajaran-ajaran yang sangat penting, khususnya dalam berinfaq. Padahal aku sudah banyak mempelajari teori tentang infaq, zakat dan sedakah, baik dari sisi agama maupun ekonomi. Aku bahkan sudah tahu kalau infaq dikelola secara baik oleh negara dapat mengangkat kesejahteraan masyarakat. Tapi selama itu juga tanpa sadar, dalam praktiknya aku hanya membatasi infaq wajib pada zakat, itupun zakat fitrah. Kalaupun ada pengeluaran infaq sunnah, paling-paling aku berikan dalam bentuk uang receh pada pengemis atau pengamen, tentu saja kalau pas hatiku sedang lapang.
Sejak saat itu aku mencoba belajar lebih banyak keda rekan perempuanku tadi, bukan tentang teori berinfaq atau berzakat, tetapi bagaimana caranya supaya bisa dengan istiqamah menjalankan kewajiban infaq. Sedikit-sedikit aku praktikkan memotong pendapatan 2,5% setiap bulannya. Awalnya berat, tapi setelah aku paksa, atas izin Allah menjadi kebiasaan dan terasa ringan. Bahkan aku menjadi terbiasa untuk memotong setiap pendapatan dari manapun dan berapapun jumlahnya minimal 2,5% untuk berinfaq. Sejak tahun 2004, aku mulai berani mengajak orang-orang di sekelilingku, anggota beberapa jamaah pengajian yang aku asuh, serta mahasiswaku untuk selalu menanamkan kesadaran berinfaq.
Ada banyak pertanyaan setiap kali aku menganjurkan infaq, terutama bagaimana cara memulainya dan apa dalil atau landasan hukumnya? Dan setiap kali itu juga aku menjawab, pertama, mulailah dengan memaksa diri kita sendiri. Sebab tanpa memaksa diri sendiri, sulit rasanya kita mengurangi pendapatan yang kita peroleh hasil kerja keras selama sebulan, lalu kita berikan begitu saja pada orang lain. Kedua, selalu tanamkan prinsip pada diri sendiri untuk tidak pernah menolak orang yang meminta-minta dan jangan menunggu ikhlas, sebab kalau menunggu ikhlas jangan-jangan kita tidak akan pernah berinfaq. Yang aku praktikkan, ketika ikhlas aku berinfaq dalam jumlah yang relatif banyak (tentu saja menurut ukuranku), tetapi jika sedang tidak ikhlas aku berinfaq dalam jumlah lebih sedikit. Ketiga, jangan menunggu tahu landasan hukumnya untuk berinfaq. Tidak ada jaminan orang yang tahu banyak dalil dan teori, kemudian dia secara sukarela mau berinfaq. Yang jelas, dari aspek manapun, agama, sosial maupun ekonomi, berinfaq merupakan perbuatan yang baik dan menguntungkan. Keempat, jangan menunggu sampai kaya untuk berinfaq. Sebab biasanya, semakin kita kaya, semakin besar kewajiban infaq yang harus dibayarkan. Dan ha itu akan terasa semakin berat bagi yang belum terbiasa. Itu juga alasannya kenapa aku selalu menyisihkan langsung setiap pendapatan yang aku terima untuk diinfaqkan.
Dengan menjalankan infaq ini, aku telah memperoleh dua keuntungan; pertama, aku mendapatkan kepuasan batin karena bisa membantu orang lain meskipun tidak seberapa jumlahnya. Kedua, ini yang lebih penting…. he he, rekan perempuanku tadi, yang menyadarkan aku pentingnya berinfaq, sekarang sudah menjadi istriku dan ibu dari anak semata wayangku. Ada lagi sebenarnya keuntungan yang lain, tapi aku tidak berani berharap; pahala dari Allah SWT. Biarlah itu selamanya menjadi rahasia Allah, dan semoga aku tidak sempat untuk berfikir kapitalis, menghitung-hitung berapa pahala yang sudah aku investasikan pada rekening amalku.
Saudaraku, baik yang muslim maupun non muslim, mari kita biasakan berifaq, berderma atau bersedekah. Bukan semata-mata karena alasan agama, tetapi karena kesadaran bahwa kita punya tanggungjawab sosial terhadap saudara-saudara yang lain, yang hidup dalam keterbatasan bahkan kekurangan. Kita tengok sejenak, betapa banyak orang yang hidup di kolong jembatan, yang ketika untuk mendapatkan sesuap nasi saja harus mempertaruhkan nyawa, harga diri dan kehormatan. Berapa sering sudah kita melihat dan mendengar kisah anak-anak yang busung lapar, ibu yang bunuh diri karena himpitan ekonomi, anak-anak gadis yang menjual kehormatan demi menyabung hidup. Tidak perlu kita silau dengan perilaku rakus para pejabat korup, yang hanya tahu memperkaya diri sendiri, yang sudah kehilangan malu pada Tuhan dan dirinya sendiri. Barangkali mereka memang diciptakan untuk menjadi cobaan kita yang masih punya nurani untuk peduli.
Semoga ramadhan membawa berkah pada kita semua, pada orang-orang yang masih punya nurani, pada gembel-gembel di rumah kardus, pada pengamen jalanan, pada pencuri yang tertangkap karena menuruti rengekan anaknya yang kelaparan, pada ibu yang rela menghamba pada majikannya demi membiayai sekolah anaknya dan membeli obat untuk suaminya yang sedang sakit meregang nyawa. Mari tanamkan kesadaran berinfaq dari sekarang.
Selamat menjalankan puasa bagi saudaraku muslim, semoga puasa kita benar-benar dapat menempa diri menjadi orang yang bernurani. Selamat beribadah kepada saudaraku non muslim, mari kita laksanakan ajaran agama kita untuk lebih peduli pada satu hal yang universal. Kemanusiaan.
Kaki Muria, 14 Agustus 2010

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s