Pesta Sunyi di Beranda

PESTA SUNYI DI “BERANDA”

Bagi sebagian orang merayakan ulang tahun menjadi kebiasaan bahkan bagian dari kebutuhan dan budaya dirinya serta lingkungannya. Setidaknya itu yang sering aku saksikan dari tayangan-tayangan televisi. Dalam kungkungan budaya materialis seperti ini, identitas diri lazimnya selalu diukur dengan standar materi, ataupun budaya materi. Lihat saja dalam perayaan ulang tahun para selebritis. Mereka membuat pesta serba gemerlap, diisi dengan acara makan, minum, tidak ketinggalan dan pemberian kado. Bahkan pernah aku berbincang dengan seorang teman yang sudah terjangkiti gaya hidup materialis, dia menganggap kado dalam ulang tahun sebagai “investasi”, bahasa halus dari piutang. Temanku itu memiliki catatan rapi dalam buku agendanya kepada siapa saja dia telah menyerahkan kado, baik itu kado ulang tahun, kado pernikahan bahkan kado khitanan anak rekan sekantornya. Aku tidak perlu bertanya untuk apa daftar pengeluaran kado itu dibuat. Sebab, setahuku tidak ada lagi makna lain dari investasi selain mengharapkan gain?
Tetapi aku sendiri selama ini tidak pernah menganggap istimewa arti ulang tahun, selain pergantian waktu, hari, bulan dan tahun, sama seperti ketika hari sabtu ini akan berganti dengan minggu esoknya. Dulu waktu di kampung memang ada bahkan sering perayaan ulang tahun untukku yang dibuat ibu atau simbah. Aku katakan sering karena perayaan itu bukan setiap tahun di hari kelahiranku, tapi setiap “selapan”, 36 hari sekali. Artinya dalam setahun aku biasa mengadakan pesta “ulang bulan” kira-kira 12 kali. Tapi itu beda, itu bukan perayaan hura-hura, bukan materialistis. Tidak ada balon, tidak ada kado. Kami hanya membuat satu baki nasi kuning dengan “ubo rampenya”, sayur kacang panjang dan bayam, ikan teri, tiga butir telur rebus, tahu dan tempe. Lalu kami mengundang beberapa anak tetangga untuk doa bersama, setelah itu dimulailah “pesta” makan-makan. Tetapi sekali lagi itu beda dengan pesta ulang tahun para selebritis. Pesta kecil yang sederhana itu terasa lebih sakral dan humanis ketimbang pesta mewah di hotel atau di rumah-rumah gedong.
Kemarin, tepat 3 September aku berulang tahun untuk yang kesekian kalinya. Seperti biasa, tidak ada pesta yang aku buat. Tidak ada undangan yang aku sebar dan sudah pasti tidak ada kado yang aku terima. Yang agak berbeda justru gemuruh dalam dadaku. Tiba-tiba saja aku merasa sepi ketika menanti detik-detik ulang tahunku. Aku merindukan sekedar ucapan ulang tahun dari orang-orang terdekatku, sekedar ulang tahun, bukan kado. Perasaanku semakin getir manakala harapanku itu berlalu tanpa pernah terwujud. Untuk menghibur kekecewaan, aku berdoa sejenak, berharap semoga pergantian sebutan usiaku ini membawa berkah, kebaikan dan kesuksesan bagi diriku dan orang-orang terkasihku. Intinya aku ingin lebih baik lagi dan jauh lebih baik dari kemarin dan hari ini. Pikiranku terasa lebih tenang setelah melantunkan sebait doa. Sejurus kemudia aku meraih telepon genggam bututku untuk sekedar update jejaring sosial, ingin memonitor ada status baru apa lagi yang dibuat sahabat online. Aku merasa agak heran, tumben ada 15 pesan yang mengantri untuk ku buka. Dan setelah ku buka…! aku terkejut sekaligus girang bukan main. Ada lima belas greeting ultah dan “kado-kado” yang terpampang, semuanya untukku! Aku baca satu persatu; ada lima ucapan ultah saja, empat disertai do’a, dua potong kue tart lengkap dengan lilinnya dan… tiga ucapan romantis! “Gila… ini pesta!” pekikku dalam benak. Padahal aku tidak pernah mengirim undangan selembarpun, bahkan aku sendiri baru ingat dua jam sebelumnya kalau hari itu aku ulang tahun. Aku tahu ketika iseng melihat catatan kalender untuk mengecek agenda kerja apa yang harus aku kerjakan hari itu. Sejenak aku larut dalam pesta di “beranda” jejaring sosial. Aku balas satu persatu greeting ultahku itu, tentu saja sesuai ucapan mereka. Yang mengirim doa aku balas dengan “amin dan terima kasih”, yang kasih kado aku balas dengan ledekan “ditunggu kado benerannya”, yang sekedar kasih ucapan “matur thank U” dan yang kasih ucapan romantis aku balas dengan pesan yang lebih romantis dan sedikit nggombal.
Pesta kecil di beranda itu seperti sebuah kemeriahan dalam kesunyian, tetapi tetap saja terasa sangat indah. Yang lebih istimewa, sebagian sahabat yang turut dalam pesta kecil di beranda itu tidak semuanya aku kenal secara fisik. Beberapa belum pernah aku lihat wajah mereka yang sesungguhnya, sebab mereka selalu menampakkan wajah tokoh kartun dan boneka. Aku jadi berharayal setengah berharap… “seandainya pesta kecil di beranda itu dapat aku pindahkan ke halaman rumah……”
Met Ultah diriku, semoga panjang umur, dikaruniai kebahagiaan dan kesuksesan… aamiin.
Didim, 04 September 2010

2 pemikiran pada “Pesta Sunyi di Beranda

  1. Pesta wetonan memang jarang saya rayakan. Tapi ibu di kampung selalu inget weton saya dan selalu membuat “uba rampe” seperti tertulis di atas.

    Baru pulang kampung kemarin pas weton saya, dan it feels so good when my mom bikinkan “sega gudangan”
    Rasanya luar biasa nikmat dan menyentuh hati … halahh🙂

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s