SEX IN THE CAMPUS

SEX IN THE CAMPUS

 Gambar

Jangan buru-buru salah persepsi dengan judul di atas. Saya tidak bermaksud membahas tentang suatu skandal terlarang di kampus. Bukan juga membahas kehidupan seks mahasiswa yang belakangan semakin permisif.

 

Sepertinya manusia memang dilahirkan dengan dimensi seksual. Secara naluriah manusia butuh berkembang dan mempertahankan keberlangsungan kehidupannya. Maka seks menjadi cara untuk tujuan tersebut. Dalam perspektif agama seks juga dibincang sebagai salah satu aspek kehidupan yang harus di atur, bukan dilarang. Sedangkan secara psikologis aktifitas seksual menjadi pemicu semangat dan meningkatkan produktifitas kerja seseorang.

 

Tapi apa jadinya jika seks memasuki lingkungan kampus? Jika yang dimaksud adalah perilaku “menyimpang” yang dilakukan para akademisi dan kalangan intelek, perspektif etis menolak hal itu. Tapi jika itu sebatas perbincangan dalam konstruk ilmiah, sah-sah saja.

 

 Pengalaman saya berkunjung ke Perpustakaan ADFA (Australian Defense Force Academy) di Canberra, Australia beberapa waktu lalu menyisakan pengalaman menggelitik. Sederet buku bertemakan seks terjajar rapi di rak perpustakaan. Sebut saja beberapa judul di ataranya, seperti: American Porn, Scandinavia’s Porn, Thinking XXX, Visible Harm?, The Man Who Invented Sex  The History of Sex, Wired for Sex dan masih banyak lagi.

 

Melihat judul-judul tersebut saya cuma bisa tersenyum sembari berbisik ke teman. Tidak lupa mengabadikan deetan buku-buku “unik” tersebut melalui kamera digital. Tidak ada waktu untuk membicarakan kenapa buku-buku itu ada di perpustakaan kampus sebesar ADFA. Tapi saya coba menebak-nebak beberapa kemunginan. Mungkin saja buku-buku itu menjadi kesadaran pihak kampus bahwa ADFA yang memang mendidik calon perwira perlu memberikan pemahaman menyeluruh tentang sex kepada mahasiswanya. Masuk akal kan? Tugas kemiliteran seringkali memaksa seseorang untuk berpisah jauh dengan keluarga. Selain itu suasana yang dihadapi juga penuh dengan ketegangan yang berpotensi menimbulkan stress. Jika sudah begitu, sangat penting membekali pemahaman yang benar  seputar kepada prajurit yang sedang bertugas, supaya menghindari perilaku seks menyimpang.

 

Dugaan lain tentu tidak bisa di dilepaskan dari kultur masyarakat Australia yang “konon” atheis. Dalam kultur seperti itu seks diperlakukan seperti aspek kehidupan lain yang tidak perlu diperlakukan secara khusus. Mungkin saja koleksi buku-buku serupa juga dijumpai di perpustakaan-perpustakaan lain di Australia.

 

Kondisi ini berbeda dengan di Indonesia yang masih keukeuh memegang norma, dimana seks tidak bisa diperbincangkan (apalagi) dilakukan secara bebas. Ada nilai-nilai yang membingkainya. Ada aturan-aturan yang mebatasinya, bahkan ada lembaga yang punya otoritas melegalkannya.

 

Coba sekarang telisik di perpustakaan kampus kita, adakah buku-buku seperti itu?

Satu pemikiran pada “SEX IN THE CAMPUS

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s