Pendidikan Pesantren

MEMPROMOSIKAN PENDIDIKAN ALA PESANTREN?

 

 

Seringkali kita mendengar bahwa sistem pendidikan modern saat ini, khususnya di Indonesia, dianggap telah “gagal” menghasilkan  output yang ideal (ideal dalam arti yang seluas-luasnya). Pendidikan modern tanpa sengaja telah membatasi diri sebagai pabrik penghasil tenaga kerja. Indicator keberhasilannya juga diukur dari seberapa mampu lulusan terserap oleh pasar tenaga kerja.

 

Dalam konstruk yang demikian, pendidikan secara massif telah merduksi fungsinya sendiri. Pendidikan tidak lagi menjalankan fungsi: (1) transfer pengetahuan, (2) transfer budaya dan nilai, (3) upaya pelestari budaya dan nilai, (4) pewarisan budaya dan nilai, serta (5) merubah budaya dan nilai.  Maka tidak heran, generasi yang dihasilkan oleh sistem pendidikan yang hanya memenuhi tuntutan logika ekonomi seperti itu telah meninggalkan aspek nilai dan moralitas. Pada gilirannya, budaya yang terbentuk adalah budaya “yang penting saya untung”. Kiranya lahirnya generasi korup di lembaga-lembaga pemerintah, politisi yang telah kehilangan rasa malu, dan kelompok masyarakat yang egois telah menjadi bukti sahih bagi kegagalan sistem pendidikan modern saat ini.

 

Ironisnya, pemerintah justru meligitimasi dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Misalnya saja,  hasil pendidikan ditentukan melalui Ujian Nasional, Ijazah, nilai, bahkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI). Pertanyaannya: bagaimana sistem pendidikan yang ideal?  Yang bisa mengembalikan pendidikan pada pemenuhan fungsi-fungsinya secara menyeluruh?

 

Tidak mudah memang menjawab pertanyaan di atas. Tetapi barangkali kita bisa menawarkan sebuah usulan dengan merekonstruksi sistem pendidikan yang pernah ada dan yang kita anggap pilihan lebih baik dari yang sekarang, salah satunya sistem pendidikan yang berlaku di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM), Kajen, Jawa Tengah.

 

Berbicara sistem pendidikan di PIM tidak bisa lepas dari gagasan dan sepak terjang salah satu tokoh utamanya, KH. Sahal Mahfudh. Dari sisi gagasan, dalam berbagai kesempatan, Kyai Sahal mempromosikan pentingnya nilai-nilai “salih” dan “akram”. Terminologi yang pertama merujuk pada suatu kualifikasi social dan professional yang harus dimiliki oleh calon lulusan, sementara yang terakhir menjadi standar moral yang juga harus dimiliki. Sedangkan dari sisi praksis, Kyai Sahal memposisikan diri sebagai figure teladan bagi santri-santrinya (bersama pendidik-pendidik di PIM lainnya).  Tindakan dan keputusan-keputusan yang diambil Kyai Sahal dan guru-guru yang lain menjadi parameter kongkrit bagi para siswa (santri) dalam bertindak dan mengimplementasikan pembelajaran yang berlangsung di kelas.

 

Selain itu, sistem pendidikan di PIM juga didukung oleh lingkungan pesantren di sekitarnya yang berfungsi sebagai supporting system, menjadi lingkungan belajar. Dengan sistem seperti ini, pendidikan tidak hanya berhenti pada proses belajar mengajar di kelas, tapi juga berlanjut ketika peserta didik berada di pesantren dengan mengalami proses pembentukan oleh pesantren dan melalui contoh para pengajarnya.

 

Mencermati gagasan Kyai Sahal yang telah diterapkan di PIM dan pesantren sekitar di sekitarnya, konsep pendidikan yang ideal dapat diilustrasikan sebagai berikut:

 

Gambar di atas disebut sebagai siklus pendidikan dimana unsure-unsurnya terdiri atas: input-proses (internal dan eksternal), output dan out come.

 

Input dalam sistem pendidikan di PIM adalah calon siswa yang disaring melalui seleksi penerimaan melalui test dengan kualifikasi tertentu. Sedangkan proses internal melibatkan ketersediaan kurikulum, penerapan metode pembelajaran, ketersediaan media pembelajaran dan sebagainya, yang berkaitan langsung dengan proses belajar di kelas. Sedangkan proses eksternal melibatkan prilaku guru sebagai contoh bagi peserta didik (santri) serta iklim pesantren yang mendukung bagi pembelajaran di kelas (PIM). Output diwujudkan dengan standar kompetensi yang wajib dipenuhi oleh peserta didik, dan outcome adalah penyerapan “pasar” terhadap lulusan yang dihasilkan oleh PIM.

 

Perhatian khusus perlu ditekankan pada proses eksternal, dimana tanggungjawab guru tidak hanya berhendi di dalam ruang kelas. Perilaku guru harus merepresentasikan contoh ideal yang bisa dirujuk oleh peserta didik. Demikian juga keberadaan pesantren harus bisa mendukung proses belajar dalam kelas. Ini bisa diwujudkan jika ada sinkronisasi kurikulum di PIM dan pesantren di sekitarnya. pada akhirnya, lulusan yang dihasilkan PIM akan memiliki kompetensi yang lengkap dan akan dibuktikan oleh masyarakat sebagai pengguna.

 

Model pendidikan yang digagas Kyai Sahal dan diterapkan di PIM ini kiranya dapat menjadi model bagi sistem pendidikan nasional yang telah tereduksi fungsinya. Pemerintah mestinya bisa menciptakan lingkungan belajar dan membebankan kepada guru akan tanggungjawab moral bagi peserta didiknya. Peran yang sama juga mesti dijalankan oleh institusi penyelenggara pendidikan. Walhasil, jika ini bisa dilakukan, kiranya kegamangan terhadap sistem pendidikan modern saat ini bisa teratasi. Wallalu a’lam.

 

 

Gambar

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s