ANGKUH

Gambar

ANGKUH….

 

Bahrun membetulkan letak surban dipundaknya. Tangan kirinya masih memeluk erat kitab Ihya’ ulumiddin yang baru saja dikaji bersama abah Yai.

 

“Kalau begitu benar sekali keputusanku….” Begitu bisik suara hatinya.

“Manusia diciptakan Allah dengan segala dosa yang sandangnya. Karena manusia adalah tempat salah dan dosa. Hanya malaikat yang tidak pernah salah”

 

Tangan kanannya mengepal sambil menatap phon Jambe di depan “gotakan”-nya yang berjarak 10 meter dari teras masjid.

 

“Kang Adi…”  Terdengar panggilan dari belakang, tak digubrisnya.

“Kang Adi…!!” Kali ini agak keras.

 

“Sudah ku bilang, mulai kemarin namaku bukan Adi!. Aku ini Bahrudh-dhunub. Panggil saja aku Bahrun” Sergah Bahrun agak kasar.

 

“Lho kang… bukannya pak Kuri sudah bilang, nama itu tidak baik… Artinya lautan dosa. Kan pak Kuri menyarankan agar dirubah Bahrul Saja toh kang!” Kata Poniman.

 

“Tahu apa pak Kuri…?  Beliau kan tidak tahu kenapa aku pake nama Bahrudh Dhunub….??!

Aku ini lautan dosa, masa laluku kelam, banyak melakukan kesalahan….!!

Apa salah kalau aku mengakui semua dosaku kepada Allah

Apakah kalian, kamu dan pak Kuri mau melarang aku bertaubat?!!

Apa kalian mau menjerumuskan aku ke dalam neraka…

Aku bahkan tidak berani berharap masuk surga, tapi mana bisa aku berharap masuk neraka….??

Aku hanya berharap pengakuanku diterima Allah… itu saja!!”

 

Poniman tertegun mematung…..

 

“Tidak dengar apa? Barusan abah Yai menjelaskan kalau imam Ghazali juga menempatkan nadamah (penyesalan) sebagai syarat utama diterimanya taubat….?! Bukankah sudah pada tempatnya kalau aku ini menyesali kesalahan-kesalahanku, meskipun aku sendiri belum yakin apa aku bersalah??”  Bahrun semakin menjadi-jadi….

 

“Kamu tahu kan…? Aku ini korban fitnah…!

Aku tidak pernah melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan padaku sehingga aku sampai lari sejauh ini…..!!

Tapi apa kurangnya kalau aku sendiri  sudah merasa dipersalahkan, seolah-olah memang bersalah.

Tetap saja aku bertaubat, siapa tahu aku memang dipandang salah oleh Tuhan….!!!!

Tapi lihat….!! Di mana kepedulian Tuhan padaku…???”

 

 

Poniman menyela dengan terbata-bata:

“Maaf kang…, aku Cuma mau minta iuran berasnya.

Ini sudah jam setengah lima sore, waktunya nggendok, biar buka puasanya tidak  telat.

Jangan Tanya aku dimana letak kesalah pak Kuri dan kesalan Tuhan kang…

Kamu lebih tahu karena sudah ngaji ihya’, sedang aku belum…”

 

Bahrun menjawab agak pelan:

“Ya sudah, ayo ke gotakan ambil beras….

Apa perlu aku minta maaf? Tidak kan?”

 

&&&&

 

 

 

 

 

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s