MENYAMBUT PILKADA JATENG, 26 MEI 2013

MENYAMBUT PILKADA JATENG, 26 MEI 203

 

Jum’at, 24 Mei 2013; Tidak disangka dua hari lagi warga Jateng punya hajatan besar lima tahunan, Pilkada. Sebuah pesta demokrasi untuk memilih pemimpin dalam rentang waktu lima tahun ke depan. Sudah semestinya minggu pagi 26 Mei akan menjadi persitiwa penting untuk masyarakat Jateng pada umumnya. Sebagai provinsi yang tepat di titik pusat pulau jawa, Jateng memegang peranan penting dalam geliat politik dan ekonomi secara nasional. Arus sebaran komoditas ekonomi yang melintasi jateng dari dan ke Jakarta, terutama yang berasal dari wilayah timur hampir pasti melewati tiga pintu jalur transportasi jateng, pantura, tengah dan selatan. Jateng juga menjadi kran bagi mobilitas politik yang melibatkan Jakarta dan daerah-daerah jawa lainnya.

 

Faktanya Provinsi Jateng seperti kurang siap memanfaatkan posisi strategisnya. Angka kemiskinan jateng yang masih tergolong tinggi dibandingkan provinsi-provinsi lain di Jawa menjadi indikasi sahih ketidak sigapan pemrov Jateng mengelola potensi ekonominya. Hal itu juga diperkuat dengan banyaknya infrastruktur (jalan raya, terminal, bandara, pelabuhan dll) yang jauh dari kata memadai bagi daerah sebesar dan sepenting Jateng.

 

Tentu saja factor kepemimpinan sangat menentukan maju mundurnya suatu daerah. Sebagai warga Jateng, saya sendiri menilai kalau selama lima tahun terakhir laju pembangunan terasa mandeg. Tidak ada kemajuan berarti yang bisa diraih, terutama dalam sector ekonomi. Bahkan slogan “Bali deso Mbangun Deso” dan menjadi tag line kampanye gubernur yang lalu hanya berupa pepesan kosong. Wagra desa tetap dalam “kesahajaannya”. Mereka tidak mengalami lompatan kemajuan sama sekali, diukur dari kenaikan pendapatan sekalipun. Bahkan kehidupan petani dan nelayan rasa-rasanya semakin berat.

 

Karena itu sudah semestinya tanggal 26 Mei menjadi momentum bagi warga jateng untuk lebih cerdas dan penuh perhitungan dalam menentukan calon pemipinnya. Sangat mungkin sebagian masyarakat (seperti juga saya) kurang begitu mengenal siapa saja calon-calon pemimpin yang bertarung dalam pilkada-pilgub kali ini, selain dari iklan dan spanduk-spanduk kampanye. Tidak ada salahnya sebelum mendatangi TPS mencari informasi terlebih dahulu tentang calon-calon tersebut. Saya kira pepatah lama “Lima menit menentukan masa depan lima tahun” masih relevan diingat. Sekali salah pilih, berarti akan menanggung kesalahan lima tahun bahkan bisa lebih. Apatisme di tengah-tengah ketidak pastian politik tidak perlu diwujudkan dengan cara golput. Golput bukan pilihan yang bijak, karena sama saja dengan menyerahkan nasib kita kepada orang lain. Jangan pernah berfikir bahwa “satu suara yang saya miliki tidak berpengaruh pada hasil pilgub”.  Ini pemikiran yang salah. Bukankah dalam sistem pilgub sekarang ini kemenangan calon ditentukan dari akumulasi suara pemilih? Bukankah banyaknya suara pemenang dihasilkan dari satu-satu suara setiap pemilih? Karena itu, sudah semestinya semua anggota masyarakat yang memiliki hak pilih menggunakan haknya demi kepentingan yang lebih besar lagi.

 

Mari kita tunggu, sejauh mana kesadaran dan partisipasi politik warga jateng. Menurut saya, tingginya kesadaran dan partisipasi politik lebih penting daripada bertikai karena calon pemimpin yang digadang-gadang gagal menjadi pemenang. Kita tunggu saja, semoga pilkada jateng berjalan dengan baik, partisipasi warganya baik, dan pemimpin yang terpilih juga yang terbaik.   

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s