HARUSKAH MALAS KETIKA BERPUASA?

HARUSKAH BERPUASA MENJADI MALAS?

Sadar atau tidak, banyak orang yang menganggap bahwa berpuasa itu bisa menurunkan produktivitas seseorang. Sekilas anggapan seperti ini benar, sebab pada saat berpuasa kita tidak mengkonsumsi sama sekali makanan ataupun minuman. Padahal makanan dan minuman itulah yang menjadi sumber tenaga kita. Terlebih jika puasa dilaksanakan di tengah cuaca yang ekstrim panas. Potensi untuk mengalami kehausan, dehidrasi dan lemas tentunya lebih besar.
Sekalipun demikian, ternyata pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar. Kalau kita mau mencermati lagi, jumlah dan variasi asupan makanan yang kita konsumsi di saat puasa cenderung lebih banyak dari pada saat tidak berpuasa. Indikasinya mudah saja. Pada bulan-bulan Ramadhan seperti ini pengeluaran rumah tangga lebih besar dan didominasi pengeluaran belanja kebutuhan makanan dan minuman, seperti sayuran, lauk, buah dan makanan lainnya.
Selain itu di masyarakat kita berjalan tradisi yang sudah mengakar, bahwa setiap kali bulan Ramadhan makan bersama ketika buka puasa dan sahur harus diikuti oleh semua anggota keluarga. Dengan sendirinya menu yang tersaji biasanya relative lebih lengkap ketimbang ketika makan sendiri atau dengan sebagian keluarga saja. Di samping itu, beberapa menu tambahan muncul hanya ketika bulan Ramadhan, seperti kolak, kurma, cocktail dan lain-lain, tergantung tradisi yang berlaku di masyarakat. Sudah barang tentu hal ini juga membutuhkan pengeluaran ekstra.
Dengan demikian, secara kuantitas dan kualitas asupan makanan tidak ada yang berkurang pada saat berpuasa, bahkan cenderung meningkat.
Lalu apa sebabnya orang menjadi malas saat berpuasa? Berikut beberapa factor yang patut anda cermati.

Pertama, Pola hidup.
Ramadhan bagi umat Islam adalah bulan yang penuh berkah. Oleh karena itu umat Islam dianjurkan meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, terutama di malam hari. Keyakinan ini ditanamkan begitu kuat di masyarakat. Tentu saja tidak ada yang salah dengan keyakinan ini karena dasarnya agama. Akan tetapi, seharusnya kita bisa mengatur pola hidup agar tetap sehat dan berimbang. Sebagai contoh, waktu tidur yang sedikit berkurang seharunya disikapi dengan tidur yang berkualitas. Akan tetapi yang terjadi sebaliknya. Kebanyakan dari kita justru menghabiskan waktu malam untuk begadang dengan aktifitas yang tidak produktif, seperti menonton acara televisi atau mengobrol.

Kedua, variasi menu makanan.
Dokter dan pakar kesehatan sudah sering mengingatkan bahwa yang terpenting dari makanan adalah kualitasnya, bukan jumlahnya. Terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang homogeny (sejenis) dapat mengakibatkan berlebihnya salah satu unsur yang dibutuhkan tubuh, tapi kekurangan unsure yang lain. Yang harus terpenuhi sebenarnya unsure-unsur dasar bagi kesehatan tubuh, yaitu: sumber karbohidrat, protein dan vitamin, yang bisa diperoleh dari nasi, ikan dan daging, sayuran, buah-buahan dan susu. Penting juga memperhatikan saran pakar kesehatan makanan apa saja yang seharusnya dihindari. Misalnya yang telalu banyak mengandung asam.

Ketiga, olahraga.
Puasa bukan berarti tidak berolahraga. Yang terpenting adalah memilih-milih jenis olahraga yang tepat. Pastinya olah raga yang berat tidak cocok untuk saat berpuasa seperti saat ini. Sekedar senam ringan, jalan kaki dan jogging adalah beberapa jenis olah raga yang layak dilakukan. Olah raga penting untuk mengatur metabolisme tubuh. Kebiasaan terlalu banyak tidur juga tidak membantu kebugaran, bahkan cenderung menimbulkan efek psikologis tidak baik, seperti malas.

Keempat, Lingkungan kerja.
Ya, lingkungan kerja sangat mempengaruhi kinerja seseorang. Seringkali kita jumpai di saat puasa seperti ini rekan-rekan kerja di kantor terlihat malas. Pastinya dengann alasan yang sama, sedang berpuasa. Ada baiknya kita membuat kesepakatan dengan rekan sekantor agar selama bulan ramadhan ini tidak menunjukkan rasa malas, sebaliknya tetap ceria. Hal ini penting untuk tetap menjaga kinerja dan produktivitas, baik secara individu maupun kolektif. Pengurangan jam kerja di beberapa instansi, meskipun tidak wajib, mestinya disikapi sebagai kompensasi yang disikapi secara tepat, yaitu menyelesaikan semua tugas sesuai target. Bukan sebaliknya menunda-nunda pekerjaan dengan menyalahkan jam kantor yang berkurang.

Kelima, Mitos.
Mitos sekali lagi tidak selalu benar. Mitos timbul karena keyakinan kolektif yang berlangsung terus-menerus sehingga dianggap sebagai suatu kebenaran. Di tengah masyarakat kita terdapat banyak mitos yang tidak tepat tentang puasa, misalnya: tidur saat berpuasa itu berpahala. Sekalipun terdapat referensi yang menjadi landasan mitos ini, mestinya kita secara kritis menyikapinya. Sejauh mana tingkat validitas sumbernya, atau setidaknya menyikapi dengan benar: kalau tidur saja berpahala, apalagi melakukan hal-hal yang positif.

Jadi, saat berpuasa tidak bisa dibenarkan kita memupuk rasa malas. Tetap semangat dan selalu tersenyum. Semoga sukses menjalani ibadah puasa. Amin.

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s