SELF CONTROL DAN TANGGUNGJAWAB DOSEN BERSOSMED

ETIKA BER SOSMED

SELF CONTROL DAN TANGGUNGJAWAB DOSEN BERSOSMED

Dalam sebuah kesempatan, ada dua mahasiswa yang datang mengajukan komplain terkait dengan status yang ditulis dosen di Facebook. Menurut dua mahasiswa tadi, apa yang ditulis sang dosen sangat tidak sopan dan tidak sesuai dengan posisinya sebagai contoh bagi mahasiswa…..” Salah satu mahasiswa bertanya: “Pak, apakah dosen X ini tidak bisa sedikit lebih sopan dalam membuat status di fb?”

Kasus seperti dalam ilustrasi di atas sudah teramat sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak sadar dengan apa yang ditulis di social media (sosmed), sehingga menyinggung perasaan orang lain. Begitupun pertanyaan dari mahasiswa tersebut juga sangat wajar, bahwa ternyata seorang dosen-pun yang diklaim sebagai sosok intelek, dapat kehilangan kendali atas dirinya sendiri (self control) pada saat memanfaatkan sosmed.

Tidak dapat dipungkiri kehadiran media sosial telah merubah definisi kita tentang ruang publik (public space) dan ruang pribadi (privat space). Jika dulu batasan antara ruang publik dan pribadi bersifat fisik, teritori dan kategori-kategori inderawi lainnya, kini faktor pembeda antar keduanya lebih ditekankan pada aspek fungsi. Dulu orang menggunakan telepon genggam sekedar untuk melakukan panggilan dan berkirim pesan singkat, sehingga komunikasi yang terjalin bersifat privat. Tetapi dengan dibenamkannya piranti jaringan, telepon genggam mengalami perluasan fungsi dan menciptakan ruang-ruang publik baru melalui aplikasi sosmed. Demikian juga dengan komputer, mengalami perubahan fungsi yang kurang lebih sama.

Dalam banyak kasus (tanpa merinci data karena menjadi pemafhuman bersama), teramat disayangkan perubahan definisi antara publik dan privat ini kurang disadari oleh sebagian masyarakat. Tengok saja, betapa orang sekarang dengan mudahnya bergosip ria, membicarakan keburukan orang lain melalui sosmed tanpa menyadari bahwa apa yang ditulis akan dibaca oleh pihak lain yang tidak terlibat secara langsung dengan isi pembicaraan tersebut. Beberapa kasus hukum yang diakibatkan kekeliruan pengunaan sosmed seakan menjadi penegas bahwa gap antara pesatnya kemajuan teknologi informasi dengan kesadaran diri penggunanya adalah nyata adanya.

Pada kasus diatas, self control dari sang dosen yang diharapkan oleh si mahasiswa nyatanya tidak terjadi. Self-control merupakan kenderungan individu untuk mempertimbangkan berbagai konsekuensi untuk perilaku tertentu (Wolfe & Higgins, 2008). Dengan kata lain self-control adalah kemampuan individu untuk menahan diri atau mengarahkan diri ke arah yang lebih baik ketika dihadapkan dengan godaan-godaan (Hofmann, Baumeister, Förster, & Vohs, 2012). Di sini kita diingatkan pada terma identitas sosial, bahwa seiring dengan status yang melekat pada seseorang, tanggungjwab sosial yang diembannya juga mengiringi. Status dosen tentunya memiliki konstruksi ideal sebagai pribadi yang mencerminkan kesempurnaan sikap, tutur kata, perilaku dan cara mendemonstrasikan style dalam menjalin relasi dengan siapa saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja. Mestinya sang dosen memiliki kemampuan untuk setidaknya mencoba untuk membuat sedikit perbedaan style dalam membuat status di sosmed, mungkin dengan tidak perlu ikut-ikutan lebay, sok ABG, apalagi menjurus ke arah pornografi.

Mengutip Tangney, Baumeister dan Boone (2004), Self-control memiliki keterkaitan dengan penyesuaian diri yang lebih baik mengurangi kemungkinan munculnya gejala psikopatologi, dan meningkatkan self-esteem. Berdasarkan berbagai penelitian, orang dengan kemampuan self control yang tinggi terbukti lebih berhasil dalam akademik, mengembangkan karir, mengurangi makan yang berlebihan, mengontrol penyalahgunaan alkohol, mampu menjalin hubungan yang lebih baik dan memiliki keterampilan interpersonal yang baik pula. Sedangkan menurut DeWall, Baumeister, Stillman dan Gailliot (2005) Self-control memungkinkan seseorang untuk hidup dan bekerja bersama-sama dalam suatu sistem budaya yang dapat menguntungkan berbagai pihak.

Sebaliknya individu dengan self-control yang rendah cenderung memiliki hubungan sosial yang lemah atau rusak (Wright, Caspi, Moffitt dan Silva, 1999). Dalam penelitian Chapple (2005) menyimpulkan bahwa self-control yang rendah menyebabkan penolakan dari rekan sesama (peer rejection), hubungan dengan rekan atau kelompok yang menyimpang (deviant peer) dan kenakalan (delinquency).

Jadi kepada para dosen, mestinya berhati-hati pada saat ber-sosmed ria. Karena ternyata mahasiswa dan mahasiswa anda lebih respek jika anda tidak memaksakan diri untuk terlihat gaul, tetapi mengorbankan etika. Ada baiknya para dosen membaca ulang buku etika dosen yang mungkin saja sudah anda terima pada saat pertama kali diangkat sebagai dosen. Gaul boleh asal sopan.

*) Disadur dari berbagai sumber

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s