PARADOKS ORGANISASI KEMAHASISWAAN

aktivis

PARADOKS ORGANISASI KEMAHASISWAAN

Memahami Sisi Paradoks Organisasi Kemahasiswaan

Menyaksikan perkembangan organisasi kemahasiswaan saat ini selalu tersisip sisi paradoks. Betapa tidak, di satu sisi mahasiswa dianggap sebagai salah satu unsur penting dalam sebuah Perguruan Tinggi, tapi pada sisi lain keberadaan organisasi mereka terabaikan begitu saja. Bagi mereka yang pernah merasakan dinamika pergerakan mahasiswa di era 70-an sampai penghujung 90-an, kondisi saat ini adalah sebuah ironi. Alumni 98 (istilah yang mereka klaim) sering membanggakan aksi heroik mereka menumbangkan otoriter Orde Baru membari memicingkan mata terhadap mahasiswa sekarang.

Faktanya, keberadaan organisasi kemahasiswaan di kampus sering kali hanya menjadi pemanis, atau paling jauh sekedar memenuhi tuntutan adminstrasi. Cara pandang kebanyakan pemangku kepentingan di kampus yang menempatkan mahasiswa sebagai “peserta didik” tanpa disadari telah memasung kreatifitas mahasiswa untuk berekspresi melalui wadah-wadah yang memang sudah diciptakan. Status sebagai Mahasiswa Paling Lama (MAPALA) saat ini menjadi aib, tidak saja bagi mahasiswa yang bersangkutan, tetapi juga kampus setempat. Ini berbeda dengan era dulu ketika lamanya masa tempuh studi tidak menjadi tolok ukur prestasi. Penampilan mahasiswa dengan gondrong, berkaos oblong, menenteng “buku kiri” dan bergambar tokoh-tokoh perlawanan tidak lagi dijumpai di kampus, berganti dengan tampilan super modis dari mahasiswi dan gaya klimis mahasiswa sembari menenteng gawai super canggih.

Tentu selalu ada argumen pembenaran terhadap apa yang sedang jadi saat ini. Dari perspektif pemangku kepentingan kampus, sistem pendidikan sekarang tidak lagi sekedar untuk memenuhi idealisme intelektual. Tuntutan pasar terhadap terpenuhinya tenaga kerja menjadi pertimbangan utama dalam mejalankan sistem pendidikan di kampus. Itu sebabnya, kurikulum dan model pembelajaran sekarang diarahkan untuk menyiapkan calon tenaga terampil. Tuntutan demikian menempatkan skill dan attitude mengalahkan aspek knowledge. Kriteria lulusan idaman adalah mereka yang memiliki keterampilan tinggi, sikap yang baik (kadang dipahami dengan penampilan yang menarik), dan kalau perlu mampu menguasai teknologi paling mutakhir.

Jika sudah demikian, organisasi bukan lagi menjadi wadah untuk mematangkan intelektualitas mahasiswa. Pilihan mahasiswa untuk berorganisasi tidak lain adalah untuk menunjang profesi yang mereka dambakan kelak ketika lulus menyandang gelar sarjana.

Ironi Jas Almamater

Perubahan terhadap symbol kebanggaan, barangkali itulah yang terjadi pada mahasiswa sekarang. Mungkin sebagian berfikir, apa sih pentingnya sebuah kebanggaan? Apakah kebanggaan menjadi variabel penentu keberhasilan karir mahasiswa? Tentu jawabnya tidak selalu. Tetapi, pada saat predikat mahasiswa tersemat, selalu diikuti dengan tanggungjawab yang melekat pada diri seseorang. Mahasiswa, bagaimanapun juga menjadi lapisan tersendiri dalam stratifikasi sosial di tengah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Menjadi mahasiswa berarti menjadi kelompok tehormat sekaligus memberikan harapan. Maka tidak berlebihan jika status sebagai mahasiswa adalah tentang sebuah kebanggaan.

Lagi-lagi sebuah kelaziman, jika saat ini sering terlihat di televisi, sekelompok mahasiswa mengenakan jas almamaternya dengan antusias mengikuti acara komedi atau yang sejenisnya, sama antusiasnya bahkan lebih dengan saat mengikuti perkuliahan. Patut diduga, kehadiran mereka untuk sekedar nampang di acara komedi seperti itu adalah bagian dari agenda organisasi yang mereka ikuti. Bagaimana tidak, selama acara mereka dengan rapi duduk berjajar, punya yel-yel yang cukup menggelikan, bahkan sering juga memiliki irama gerakan melambai-lambai begitu apiknya. Sebuah spontanitas? Rasanya tidak mungkin! Kekompakan seperti itu hanya dapat diwujudkan melalui langkah-langkah manajemen; ada planning, organizing, actuating sampai controlling. Patut juga diduga, itulah salah satu ekpresi cara berorganisasi mahasiswa saat ini.

Mencari Akar Masalah (?)

Harus berhati-hati untuk menyebut perubahan itu sebagai sebuah masalah, karena tidak semua orang berpikir demikian. Lebih tepat jika menggunakan istilah akar per-masalah-an, karena apapun yang terjadi di dunia ini, baik atau buruk, terrencana atau spontan, tidak lain adalah sebuah per-masalah-an. Maka pertanyaan yang lebih berbunyi: “apa akar per-masalah-an pada organisasi kemahasiswaan kita sekarang ini?

Setidaknya ada beberapa hal untuk direnungkan berkaitan dengan organisasi kemahasiswaan dengan wajah barunya sekarang;

  1. Tidak ada common enemy;

Factor pemantik gerakan mahasiswa pada masa Orba adalah adanya common enemy, yaitu kekuasaan. Watak tiran yang ditampilkan penguasa pada era tersebut nyatanya ada sisi baiknya, karena berhasil menumbuh-suburkan rasa nasionalisme, empati dan sensitivitas mahasiswa pada peristiwa sekecil apapun yang berlawanan dengan keadilan. Dalam kondisi ketertindasan melawan common enemy itulah, organisasi mahasiswa dengan sadar menyemai “ideologi kiri”   sebagai jembatan besi menuju keadilan. Terma “BONGKAR!, LAWAN KEKUASAAN!, TEGAKKAN KEADILAN!” terangkum dalam mantera sakti yang diucapkan setiap kali aksi demonstrasi dilakukan: “MAHASISWA BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN!”.

Mantera sakti tersebut terbukti mampu menyatukan seluruh potensi mahasiswa di wilayah untuk mendobrak apa saja yang menjadi simbol tirani sembari membangunkan romantisme ideology-ideologi perlawanan. Kapitalisme ditolak, sosialisme diindoktrinasi. Barat adalah musuh, Timur adalah harapan!!

  1. Trauma sejarah; dipolitisir, politik kampus;

Sebagian dari pemangku kepentingan dan pimpinan kampus saat ini adalah mereka yang dibesarkan organisasi kemahasiwaan di era Orba dengan idealismenya yang sangat tinggi. Mereka ini memiliki trauma sejarah, terhadap apa yang pernah mereka saksikan atau alami ketika dulu menjadi aktivis. Dalam ketertindasan, sejatinya para aktivis ketika itu mengharapkan adanya keberpihakan dari patron yang dapat menjadi oase. Maka, ketika ada pihak kampus yang berdiri menengadahkan dada di depan barisan para aktivis dianggap sebagai pahlawan. Tetapi, hal itu justru menciptakan pola hubungan patronase antara organisasi kemahasiswaan dengan patron. Hingga saatnya, patron berhak menagih janji agar dibela kepentingannya. Di sinilah politik kampus dan politisasi organisasi kemahasiswaan terjadi. Patron seperti biasa menyentuh sisi sensitive client dengan cara menampilkan symbol-simbol ideology yang menjadi titik kompromi antara kedua pihak.

Tentu yang demikian tidak untuk diulangi, menurut perspektif para mantan aktivis ketika sekarang berdiri pada posisi sebagai pihak yang harus mempertahankan otoritasnya di kampus. Bagaimanapun caranya, gerakan mahasiswa harus dikendalikan. Dan, organisasi kemahasiswaan menjadi terali besi paling efektif untuk membatasi sisi liar mahasiswa.

  1. Identik dengan anti keteraturan

Hadirnya watak kiri pada organisasi kemahasiswaan dimasa lalu selalu diikuti dengan ideology anti kemapanan. Kemapanan adalah sebuah kekuasaan, kekuasaan adalah penindasan, penindasan adalah ketidak adilan, dan keadilan adalah musuh bersama. Barangkali begitulah jalan berfikir para aktivis kala itu. Sayangnya ideology ini terbawa mendarah daging dalam perilaku mereka. Peraturan yang berlaku di kampus-pun disikapi dengan ideology ini. Maka, ketika kampus menuntut mahasiswa agar tampil rapih, mereka justru berpenampilan selengekan. Jika diminta hadir tepat waktu, mereka justru bangga kalau bisa masuk kelas menjelang berakhirnya perkuliahan. Ruang kelas adalah penjara, sedangkan tangga kampus atau tepi jalan menjadi surga untuk meneriakkan aspirasi. Dosen yang mestinya menjadi penutur agung, menjadi pihak yang wajib ditentang dan lawan debat.

Tentu ideology anti keteraturan sangat-sangat tidak sejalan dengan keteraturan yang diidam-idamkan para pemangku kepentingan kampus. Sebab, bagi mereka peraturan adalah perwujudan kompromi atas konflik kepentingan antar individu pada saat hidup bersama dalam sebuah kelompok sosial, temasuk di kampus. Dari cara pandang seperti itu, wajar jika organisasi kemahasiswaan sekarang dikhawatirkan masih terkontaminasi oleh sisa-sisa ideology anti kemapanan.

 

Memposisikan Organisasi Kemahasiswaan

Bagaimana sebenarnya menempatkan organisasi kemahasiswaan saat ini? Jawaban atas pertanyaan ini salah satunya dapat diakukan dengan mencermati standar akreditasi yang ditetapkan oleh Badan Akreditasi Nasional – Perguruan Tinggi (BAN-PT). Dalam borang akreditasi Program Studi (prodi) maupun yang terbaru Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT), terbaca dengan cukup jelas bahawa lembaga kemahasiswaan menjadi salah satu unsur utama dalam sistem pendidikan Perguruan Tinggi. Standar akreditasi prodi (baik borang institusi mapun borang prodi) mencantumkan Standar Mahasiswa dan Lulusan, dimana tolok-ukur penilaiannya meliputi aspek : Sistem rekrutmen dan seleksi calon mahasiswa baru, jumlah kuantitatif mahasiswa regular dan non regular, bukti kuantitatif rata-rata masa studi dan IPK selama 3 (tiga tahun), profil mahasiswa dan lulusan, prestasi akademik dan non akademik mahasiswa, layanan yang diberikan kepada mahasiswa, serta evaluasi user tentang kinerja lulusan.

Selain itu pengukuran juga ditujukan pada aspek penciptaan dan peningkatan suasana akademik (kebijakan, otonomi keilmuan dan kebebasan mimbar akademik), Sarana dan prasarana yang disediakan untuk pengembangan suasana akademik, Program dan kegiatan di dalam dan di luar proses pembelajaran yang dilaksanakan di dalam maupun di luar kelas untuk menciptakan suasana akademik yang kondusif, Interaksi antara dosen-mahasiswa, antar mahasiswa, serta antar dosen, pengembangan perilaku kecendiakawanan sampai pada ukran keterlibatan mahasiswa dalam penelitian dosen.

Sedangkan dalam standar APT pengakuan dan pengkuran akreditasi juga ditentuka oleh keterlibatan mahasiswa dalam perumusan visi-misi, banyaknya jumlah mahasiswa, Sistem rekrutmen, kebijakan penerimaan mahasiswa baru yang memiliki potensi akademik dan kurang mampu secara ekonomi, fisik dan implementasinya, prinsip ekuitas (kesetaaraan) dalam penerimaan mahasiswa baru, kebijakan prinsip pemerataan wilayah asal mahasiswa, informasi jumlah asal provinsi mahasiswa, tatacara dan instrument untuk mengetahui kepuasan mahasiswa, hasil pelaksanaan kepuasan mahasiswa menggunakan instrument tersebut, jenis layanan yang diberikan kepada mahasiswa, layanan bimbingan karir dan informasi kerja dan pelaksanaannya, prestasi mahasiswa akademik, non akademik, serta upaya meningkatkan prestasi mahasiswa (akademik dan non akademik).

Tidak itu saja, indikator penilaian aspek lulusan juga dirinci lagi ke dalam bagaimana sistem tracer studi untuk lulusan dan penggunanya dilakukan, bagaimana penerapan tracer studi tersebut selama 5 tahun terakhir, hingga ada tidaknya himpunan alumni yang memberikan kontribusi bagi perguruan tinggi yang bersangkutan.

Jika melihat kedua standar akreditasi tersebut, seharusnya keberadaan organisasi mahasiswa dan fungsinya harus mendapat perhatian yang lebih dari sekedar memenuhi kewajiban administrative. Tuntutan-tuntutan dalam borang akreditasi sebagaimana disebutkan di atas tidak mungkin terpenuhi tanpa adanya sistem yang jelas dan menjamin bagi keberlangsungan organisasi kemahasiswaan. Sudah bukan saatnya lagi cara pandang yang penuh kecurigaan terhadap organisasi kemahasiswaan dikembangkan. Sebab nama besar sebuah perguruan tinggi tidak dapat lepas dari raihan prestasi mahasiswa dan organisasi kemahasiswaannya.

Barang kali yang diperlukan saat ini adalah menyusun rambu-rambu yang jelas, yang mampu menjamin bahwa lembaga kemahasiswaan dapat menjalankan fungsinya sebagai wadah pematangan mental, berlatih berorganisasi dan menerapkan ilmu yang telah diserap dari ruang-ruang perkuliahan. Meskipun demikian, mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan juga harus memiliki visi yang jelas, memiliki target yang terukur dan realistis serta memberikan pengalaman sedekat mungkin dengan realitas yang akan dihadapi ketika kelak lulus. Saat ini tidak diperlukan organisasi yang bersifat ideologis dan politis (apalagi partisan). Yang penting dicatat adalah: bahwa common enemy mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan bukan lagi tirani kekuasaan, tapi kesenjangan, lemahnya daya saing bangsa, pergulatan untuk memperjuangkan akses ekonomi, politik dan pendidikan masyarakat, dan sebagainya. Dalam konteks local; gerakan mahasiswa sangat tepat untuk menyampaikan kritik terhadap perilaku politisi dan mismanagement yang melanda birokrasi pemerintahan, korupsi dan tentu saja kemiskinan. Sedangkan dalam konteks global, isu para refugees, radikalisme, pelanggaran kedaulatan adalah sebagian kecil hal-hal menarik untk direspon dengan cerdas.

Selamat berorganisasi mahasiswa!!!

Terimakasih atas kunjungan dan komentar anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s